HP. 0856-0196-7147

PENCARIAN

Selasa, 09 Februari 2016

PTK SMP 201 : Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Dengan Menggunakan Bahasa Baku Bahasa Indonesia di SMP Negeri XXX Melalui Penerapan Cooperative Learning



ABSTRAK
Bahasa sebagai sarana komunikasi menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Namun, perkembangan tidak diimbangi dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Banyak pemakai bahasa terutama di kalangan para siswa belum bisa menempatkan diri di mana dengan siapa mereka berbicara. Untuk itu kebiasaan dalam penggunaan bahasa baku mutlak diperlaukan oelh pemakai bahasa terutama para siswa. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan diharapkan berperan aktif dalam meningkatkan kualitas manusia serta menghasilkan pribadi yang santun dalam kehidupan bermasyarakat.
Berbicara dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar adalah keterampilan yang cukup sulit dikuasai oleh siswa SMP XXX. Hal ini dibuktikan dengan hasil evaluasi dari 38 orang siswa, hanya 12 orang siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu 65 dan nilainyapun kurang memuaskan. Oleh karena itu peneliti perlu mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Guru sebagai fasilitator pembelajaran di kelas harus mampu memilih materi yang menarik dan metode yang tepat serta menyenangkan. Banyak pendekatan, metode dan strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran “Berbicara”, salah satunya dengan menggunakan penerapan COOPERATIVE LEARNING (CL).
Penelitian diadakan di keals IX D SMP XXX, dengan jumlah siswa 38 orang. Penelitian diadakan dalam 2 siklus tindakan dimulai dengan membentuk kelompok belajar. Selanjutnya siswa diberi lembar wacana dalam bentuk cerpen lalu siswa mendiskusikannya secara kelompok. Sebagai evaluasi siswa mengungkapkan kembali wacana tersebut dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar di depan kelas.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa keempat komponen penelitian yang meliputi kegiatan guru, kegiatan siswa, suasana pembelajaran dan evaluasi terhadap materi menunjukkan keberhasilan melakukan perubahan yang signifikan. Pembelajaran “berbicara” melalui penerapan COOPERATIVE LEARNING (CL) mampu meningkatkan kompetensi siswa sehingga memperoleh hasil yang memuaskan.
Keberhasilan penerapan cooperative learning (CL) mampu mengubah strategi pembelajaran yang tadinya lebih banyak berpusat pada guru (TEACHER CENTERED) mulai bergeser pada kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (STUDENT CENTERED).





DAFTAR PUSTAKA

Ali Lukman, 1991, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Burhan, Jahir, 1971, Problema Bahasa dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Ganaco, Bandung
Idris, Z H, dkk. 1981. Petunjuk Guru “Bahasa Indonesia”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
Kagan, Spencer. 1992. Cooperative Learning. San Juan. Capistrano
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1999. Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa. Balai Pustaka, Jakarta
Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning. Grasindo, Jakarta
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta
Samsuri. 1980. Analisa Bahasa. Erlangga, Jakarta
Sukarman, Herry. 2003. Dasar Dasar Didaktik dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Direktorat Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta
Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa. Bandung.
Tarigan, Henry Guntur. 1989. Pelangajaran Remedi Bahasa. Angkasa. Bandung
Wiriaatmadja, R. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Remaja Rosdakarya. Bandung.



Buku-Buku Referensi diatas dapat dibeli di TOKO BUKU RAHMA (KLIK)
Untuk mendapatkan file lengkap silahkan hubungi / sms ke HP 0856 0196 7147





Jumat, 05 Februari 2016

PTK SMA 101 : Pengembangan Pendekatan Komunikatif Untuk Meningkatkan Prestasi Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas X di SMA xxx Tahun Pelajaran 2010/2011

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah
Selama ini dalam pembelajaran bahasa secara situasional, bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan dan melatihkan struktur-struktur dasar dalam berbagai kegiatan berdasarkan situasi yang bermakna. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seperti halnya teori linguistik yang mendasari audiolingualisme, ditolak oleh para pakar linguistik terapan karena mulai mempermasalahkan asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional. Menurut para ahli, tidak ada harapan/masa depan untuk meneruskan mengajar gagasan yang tidak masuk akal terhadap peramalan bahasa berdasarkan peristiwa-peristiwa situasional. Apa yang dibutuhkan adalah suatu studi yang lebih cermat mengenai bahasa itu sendiri dan kembali kepada konsep tradisional bahwa ucapan-ucapan mengandung makna dalam dirinya dan mengekspresikan makna serta maksud-maksud pembicara dan penulis yang menciptakannya (Howatt, 1984:280, dalam Tarigan, 1989:270).
Untuk mengembalikan pengajaran bahasa Indonesia pada fungsi komunikatif, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menganjurkan penerapan pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa Indonesia. Pendekatan komunikatif adalah pendekatan yang berorientasi pada kemampuan berkomunikasi melalui bahasa. Tujuan belajar bahasa diharapkan bukan sekedar belajar tentang bagaimana kaidah-kaidah gramatik, tetapi lebih dari itu, belajar bahasa berarti belajar kaidah gramatikal untuk komunikasi. Dengan kata lain, bahwa belajar bahasa dengan menerapkan pendekatan komunikatif mempunyai tujuan ganda, yaitu (1) kesamaan bahasa yang dipergunakan, dan (2) bahasanya mudah dimengerti maknanya (Effendy, 2006: 9).
Pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan KTSP menganut pendekatan komunikatif. Artinya, pembelajaran bahasa Indonesia harus mampu membawa peserta didik menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang komunkatif dalam pergaulan sehari-hari. Komunikasi yang komunikatif mengandung arti bahwa komunikasi harus menumbuhkan saling pengertian dan pemahaman antara komunikan dan komunikator. Meskipun demikian, bukan berarti unsur kebahasaan tidak diajarkan melainkan disajikan secara terintegrasi ke dalam empat keterampilan berbahasa (Idris, 2008: 2).
Hasil yang diharapkan dari penerapan pendekatan komunikatif adalah mengarah pada keterampilan pragmatik atau kemampuan komunikatif. Salah satu usaha untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan dengan memasukkan suatu komponen silabus khusus yang disebut pragmatik, yang terdiri dari bahan siswaan, bagaimana orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan (Effendy, 2006: 9). Pendekatan komunikatif diharapkan peserta didik memiliki kemampuan berbahasa secara pragmatik yaitu kemampuan menggunakan bahasa dalam berbagai ragam dan bentuk dalam kaitannya dengan faktor-faktor penentu atau faktor-faktor sosiolinguistik.
Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa Indonesia tersebut menuntut kesiapan guru dan membekali diri dengan pengetahuan tentang pendekatan komunikatif, sehingga guru dapat memahami sekaligus juga mampu menerapkan pendekatan komunikatif itu dalam pengajaran bahasa Indonesia. Selain kesiapan dari guru, peserta didik juga dituntut untuk ikut serta berperan aktif dalam proses belajar mengajar, serta diperlukan bimbingan belajar dari orang tua secara aktif di rumah. Dengan demikian, apabila terjadi kekurangsiapan guru, lemahnya peserta didik dalam merespon pelaksanaan pendekatan komunikatif ini, dan kekurangmampuan orang tua dalam memberikan bimbingan belajar di rumah, kemungkinan justru akan memunculkan berbagai kendala yang merugikan bagi proses belajar siswa.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia, diperlukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi guru dan siswa (Yuliana, 2006: 64). Dengan demikian, maka perlu adanya pengembangan format-format atau prosedur-prosedur pembelajaran yang tepat dan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di kelas sesuai dengan kondisi aktual siswa dan guru. Pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas X-B di SMA NEGERI ... belum benar-benar disesuai dengan kondisi siswa dan guru, sehingga dianggap perlu adanya penelitian tindakan kelas. Prestasi belajar siswa selama ini belum banyak mengalami peningkatan, dimana nilai rata-rata siswa kelas X-B masih berkisar pada nilai 7,0 sedangkan target yang ditetapkan guru adalah 7,5. Ketuntasan belajar siswa masih sebesar 57,1% siswa yang tuntas belajar, sedangkan KKM yang ditetapkan guru adalah 75% siswa tuntas belajar.
Berdasarkan kondisi dan pemikiran-pemikiran tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Pelaksanaan Pendekatan Komunikatif untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas X-B SMA NEGERI Tahun Pelajaran 2010/2011”.
B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi adanya masalah sebagai berikut:
1.    Prosedur pengembangan pendekatan komunikatif yang dikembangkan pada kelas X-B SMA NEGERI ... belum benar-benar disesuai dengan kondisi siswa dan guru.
2.    Prestasi belajar siswa selama ini belum banyak mengalami peningkatan, dimana nilai rata-rata siswa kelas X-B masih berkisar pada nilai 7,0 sedangkan target yang ditetapkan guru adalah 7,5. Ketuntasan belajar siswa masih sebesar 72% siswa yang tuntas belajar, sedangkan KKM yang ditetapkan guru adalah 75% siswa tuntas belajar.
C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu:
1.      Seberapa besarkah peningkatan pelaksanaan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas X-B SMA NEGERI ...?
2.      Seberapa besarkah peningkatan prestasi bahasa Indonesia siswa kelas X-B SMA NEGERI ... setelah dikembangkan pendekatan komunikatif yang disesuaikan dengan kondisi aktual siswa dan guru?
D.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui besarnya peningkatan pelaksanaan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas X-B SMA NEGERI ...
2.        Untuk mengetahui besarnya peningkatan prestasi bahasa Indonesia siswa kelas X-B SMA NEGERI ... setelah dikembangkan pendekatan komunikatif yang disesuaikan dengan kondisi siswa dan guru.

E.  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam berbagai aspek berikut:
1.   Aspek Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat menyumbangkan khasanah pengetahuan dalam dunia pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan strategi pendekatan pembelajaran untuk bidang studi Bahasa Indonesia dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikatif siswa.
2.   Aspek Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak yaitu:
a.    Bagi Guru
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang bagaimana pelaksanaan pendekatan komunikatif dibidang Bahasa Indonesia, sehingga guru dapat mengkaji tentang perlunya peningkatan daya dukung dirinya terhadap proses pelaksanaan yang lebih baik.
b.    Bagi Sekolah
1)        Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi untuk upaya pengembangan model pembelajaran dengan pendekatan komunikatif dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikatif siswa.
2)        Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk melakukan tindak lanjut bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih efektif dan efisien.





DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Hertina Hansen. 2008. Pendekatan Komunikatif Sebagai Alternatif Pendekatan Pembelajaran Bahasa. www.UNC-indonesia.org
Supriawan, Dedi dan Surasega, A. Benyamin. 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Sudrajat, Achmad. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran. www.psb-psma.org
Winataputra, Udin S. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Senjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Anonim, 2008. Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP
Djajasudarma, T. Fatimah. 1994. Wancana (Pemahaman dan Hubungan Antar Unsur). Bandung: Eresco
Makmun,  Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Maryati, Hastini. 2007. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Tingkat Pendidikan Dasar. www.ilmubahasa.com
Mulyasa, Enco. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda

Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prasetya Irawan. 1994. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar Bahan Ajar. Jakarta: Dikti Depdikbud.
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Ridwan, Rifai.1992. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Arikunto,  Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Suyitno. 1982. Pengantar Kemampuan Berbahasa. Surakarta: Fakultas Keguruan Universitas Sebelas Maret.
Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal. Surakarta: Henary Offset.
Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Tilaar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Effendi, Uchjana, Onong. 2006. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya
Wisnu, Murti. 2006. Konsep Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta
Yohanes, Martinus. 1991. Komunikasi Efektif. Jakarta: Panorama Pustaka


Buku-buku Referensi di atas dapat dibeli di TOKO BUKU RAHMA (KLIK)

Untuk mendapatkan file lengkap silahkan hubungi/ sms ke HP. 0856 0196 7147