HP. 085 725 363 887

Pencarian

Memuat...

Jumat, 06 Januari 2012

E 058 : PENGARUH UPAH INSENTIF TERHADAP KENAIKAN HASIL PRODUKSI PADA PT TRI ANGGA DEWI DI SURAKARTA


 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejalan dengan pelaksanaan pembangunan tahap Pelita IV dan menginjak ke Repalita ke V dimana era industrialisasi seabagaimana ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) merupakan unsur pokok untuk dapat tercapainya sasaran pembangunan jangka panjang.
Arah pembangunan nasional adalah dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhny adan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia, ini berarti bahwa manusia disamping seabgai subyek pembangunan sekaligus juga sebagai obyek dari pada pembangunan itu sendiri.
Sejalan dengan perkembangan dibidang ekonomi/ tehnologi maka kebutuhan manusia pada umumnya dan kaum pekerja pada khususnya akan selalu meningkatkan baik secara kualitas maupun secara kuantitatif. Di lain pihak tingkat kemajuan perusahaan menimbulkan masalah perbedaan kemampuan dalam memberikan upah dan jaminan sosial kepada karyawan.
Manusia sebagai salah satu faktor produksi perlu diberikan motivasi atau suatu rangsangan agar pada diri mereka timbul semangat kerja dan kegariahan bekerja untuk selalu meningkatkan produktivitas kerjanya yang diwujudkan dengan peningkatan hasil produksi, karena produktivitas kerja karyawan adalah sangat perlu bagi perusahaan yang banyak memperkerjakan tenaga kerja manusia seperti di negara ini.
Adapun pentingnya produktivitas kerja karyawan adalah :
-          Meningkatkan kemampuan perusahaan dalam membut produknya agar dapat memenuhi kebutuhan para konsumen baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
-          Meingkatkan penjualan.
Dengan meningkatkan hasil produksi, maka perusahaan harus juga meningkatkan penjualan dari hasil produksinya. Oleh karena itu hasil penjualan inilah amaka keuntungan yang menjadi tujuan pokok perusahaan akan tercapai, dan hal ini akan berakibat bahwa :
1.      Kemungkinan meningkatnya upah dan jaminan sosial bagi karyawan.
2.      Kelangsungan hidup perusahaan dapat terjamin.
Akan tetapi di dalam mencapai produktivitas kerja karyawan tersebut tidaklah mudah, karena banyak sekali hambatan-hambatan atau persoalan-persoalan yang dihadapi, dimana persoalan tersebut merupakan persoalan umum yang hampir selalu dihapadi oleh setiap perusahaan.
Oleh karena produktivitas kerja karyawan sangat perlu bagi perusahaan dan ada hubungannya dengan masalah pengupahan, maka untuk meningkatkan kemampuan karyawannya perlu adanya suatu rangsangan atau alat motivasi dari perusahaan agar supaya karyawan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan seefisien mungkin.
Hambatan yang timbul dalam hubungannya dengan upah yang diberikan kepada karyawan, yaitu :
a.       Sangat sulit bagi manajemen personalia dalam menentukan/ menetapkan upah yang memenuhi persyaratan sekaligus sebagai alat movitas.
b.      Sulit dalam menetukan besarnya upah yang sesuai dengan keinginan karyawan untuk setiap jabatan.
Sedangkan untuk memberikan uaph insentif untuk masing-masing karyawan harus memperhatikan tentang prestasi kerjanya, oleh karena antara karyawan yang satu dengan yang lain kemungkinan akan berbeda dalam hal prestasi kerjanya, sehingga prestasi kerja dari masing-masing karyawan ini perlu juga dipertimbangkan dalam hal pengupahan. Untuk itu sistem pengupahan ini sebenarnya sangat penting bagi perusahaan, oleh karena dengan diberikannya tambahan upah(bonus) maka diharapkan produktivitas kerja karyawan akan meningkat dan yang lebih penting lagi yaitu untuk pertahankan karyawan yang sudah berpresatasi untuk tetap berada dalam perubahan disamping untuk meningkatkan output dan efisiensi.
Namun demikian ada berbagai kesulitan yang timbul dari sistem pengupahan insentif ini, diantaranya adalah :
1.      Beberapa alat pengukur dari berbagai prestasi karyawan haruslah bsia dibuat secara tetap. Alat pengukur ini haruslah bis diterima dan wajar.
2.      Berbagai alat pengukur ini haruslah dihubungkan dengan tujuan pokok perusahaan yang telah ditetapkan.
3.      Data yang menyangkut berbagai prestasi haruslah dikumpulkan tiap hari, minggu, atuu bulan.
4.      Standar yang ditetapkan haruslah mempunyai kadar/ tingkat kesulitan yang sama untuk setiap kelompok kerja.
5.      Gaji / upah total dari upah pokok plus bonus yang diterima, haruslah konsisten diantara berbagai kelompok yang menerima insentif dan anatara kelompok yang menerima isentif dan yang tidak menerima insentif.
6.      Standar prestasi haruslah disesuaikan secara periodik, dengan adanya perubahan dalam prosedur kerja.
7.      Kemungkinan oposisi dari pihak Serikat Buruh sudah harus diperkirakan.
8.      Berbagai reaksi karyawan terhadap sistem pengupahan insentif yang kita lakukan juga harus sudah diperkirakan.

B.     Perumusan Masalah.
Dalam suatu perusahaan yang tingkat produksinya sangat dipengaruhi oleh tenaga kerja seperti pada PT Tri Angga Dewi di Surakarta ini, maka perlu adanya sistem pengupahan yang menguntungkan karyawan dan dapat menimbulkan semangat bagi karyawannya.
Dengan diadakan sistem pengupahan insentif, maka akan dapat memberikan movitasi dan mendorong karyawan untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi kerjanya, oleh karena dengan meningkatnya kemampuan dan prestasi kerja, berarti produksivitas kerja dalam wujud peningkatkan hasil produksi akan dapat tercapai.
Sebenarnya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan diantarnya adalah : adanya movitator, disiplin kerja, balas jasa atau adanya isentif, kebijaksanaan pimpinan perusahaan, pengawasan (supervisi), lingkungan atua kondisi kerja, hubungan antara manusia, status, rasa aman dan adanya pelayanan – pelayanan kepada karyawan.
Dari beberapa faktor tersebut, nantinya hanya akan diambil salah satu faktor saja yaitu adanya balas atau insentif, sehingga penulis ingin mencoba untuk menyoroti tentang : “Bagaimana pengaruh upah insentif terhadap kenaikan hasil produksi perusahaan”.
C.     Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui sejauh mana problem yang ada dalam perusahaan khususnya yang berhubungan dnegan masalah sistem pengupahan insentif.
2.      Untuk mengetahui berhasil dan tidaknya kebijaksanaan yang diambil pimpinan perusahaan khususnya dalam bidang pengupahan insentif.


DAFTAR PUSTAKA
Agus Ahyari, Drs., Perencanaan Sistem Produksi, Edisi Tiga, BPFE, Yogyakarta, 1983.
Amudi Pasaribu, Pengantar Statistik, Ghalia Indonesia, Medan, 1981.
Anto Dajan, Pengantar Metode Statistika, Jilid II, LP3ES, Jakarta, 1984.
Djarwanto PS., Drs., Capital Budgeting, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta, 1984.
Hadi Poerwono, Tata Personalia, Penerbit Djambatan, Jakarta,
Heidjarachman Ranupandojo., Drs., Summary Industrial Ralation, BPFE, UGM, Yogyakarta, 1984.
Heidjarachman Ranupandojo., Drs., Dan Saud Husnan, Drs. MBA. Manajemen Personalia, Edisi Ke Deua, BPFE, UGM, Yogyakarta, 1983.
Imam Soepomo, Prof., SH., Hukum Perburuan Undang – undang Dan Peraturan, Djambatan, Jakarta, 1981.
Mas’ud, Drs. Mc. Akuntan, Dan Mustofa, Ir. Msc., Penerapan Nilai Investasi, Edisi Pertama, BPFE, UGM, Yogyakarta, 1984.
Soeharsono Sagir, Motivasi Dan Disiplin Kerja Karyawan Untuk Peningkatan Produktivitas Dan Produksi, Majalah Astek No. 4 (Agustus 1985).
Sudjana, Dr. MSc., Metode Statistikam Tarsito, Bandung, 1982.
Winardi, SE., Kamus Ekonomi, Penerbit, Alumni, Bandung, 1986.
Winarno Surachmad, Dr. Dasar Dan Tehnik Research, Pengantar Metodologi Ilmiah, CV. Tarsito, Bandung, 1970.
Woekirno Soenardi, Drs., Pengembangan Produktivitas Karyawan Suatu Tinjauan Dari Segi Psykhologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik, UNS, Surakarta, 1979.
Untuk mendapatkan file lengkap hubungi HP. 085 725 363 887





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar