HP. 0856-0196-7147

PENCARIAN

Senin, 27 Februari 2012

PTK SD 100 : Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas I Dalam Mengoperasionalkan Penujumlahan Dan Pengurangan Pada Mata Pelajaran Matematika Dengan Bantuan Benda-benda Kongkrit


 ABSTRAK


 xxxxxxxxxxxxxx. 2006 Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas I Dalam Mengoperasionalkan Penujumlahan Dan Pengurangan Pada Mata Pelajaran Matematika Dengan Bantuan Benda-benda Kongkrit. Pembimbing : (1) Dra Harti Kartini, M.Pd (2) Dra Umi Dayati, M.Pd.

Kata-kata Kunci : Penjumlahan, pengurangan, Metematika SD, Benda Kongkrit.

Pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga sekolah dan lingkungan. Keberhasilan pendidikan tiga komponen tersebut sangat menentukan. Disamping tiga komponen tersebut, metode atau strategi pembelajaran, alat-alat pembelajaran juga mutlak diperlukan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan benda-benda kongkrit mampu meningkatkan kemampuan siswa Kelas I SDN Jimbaran Kulon dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan dengan bantuan benda-benda kongkrit, juga diharapkan bermanfaat bagi siswa, peneliti,maupun orang tua murid. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas terhadap Siswa kelas I SDN Jimbaran Kulon sebanyak 37 siswa yang dilakukan dalam 2 siklus.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang menggambarkan masalah sebenarnya yang ada dilapangan kemudian di refleksikan dan dianalisis berdasarkan teori yang menunjang dilanjutkan dengan pelaksanaan penelitian  dilapangan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini melalui observasi pengamatan diskusi dan evaluasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan dari kegiatan pratindakan, siklus I dan siklus II. Dalam penelitian pratindakan siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 35 % setelah dilakukan tindakan dengan alat bantu benda-benda kongkrit. Ketuntasan belajar siswa dalam siklus I naik menjadi 97 % dilanjutkan siklus selanjutnya seluruh siswa mengalami ketuntasan belajar.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa benda-benda kongkrit dapat membantu siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan pada pembelajaran Matematika Kelas I, sehingga prestasi belajar mengalami kemajuan. Temuan yang lain anak menjadi senang, percaya diri dalam melakukan proses pembelajaran.
Dengan demikian dapat disarankan bahwa pelaksanaan pendidikan hendaknya berwawasan lingkungan karena lingkungan banyak menyediakan alat bantu yang murah, mudah didapat dan mudah dikenal anak

DAFTAR RUJUKAN

Hopkins. D, 1993. A Teacher Guide To Classroom Research Buckingham : Open Unuversity Press.
Hamalik, 2002. Pendekatan Guru Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Algensondo
Meier.2002 Active Learning. Boston ; Allyn and Bacon.
Mulyasa E, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Bandung, Rosda Karya.
Purwodarminto, Prof.Dr. 1988. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta Dep Dik Bud.
Wardhani,2004. PPPG. Jakarta : LIPI



Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 0856-0196-7147





PTK SD 099 : Penggunaan Media Lidi untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa pada Penjumlahan Bilangan Bulat di kelas IV SDN Krembung I


 ABSTRAK

 xxxxxxxxxx,  2006. Penggunaan  Media  Lidi  untuk  Meningkatkan  Keterampilan  Siswa  pada  Penjumlahan  Bilangan  Bulat  di  kelas  IV  SDN  Krembung  I, Laporan  Penelitian,  Malang
           
              Kata-kata  Kunci:  Media,  Operasi,  Penjumlahan,  Bilangan    Bulat,  Sekolah  Dasar.

            Salah  satu  permasalahan  yang  menyangkut  pengelolaan  proses  belajar  mengajar  mata  pelajaran  matematika di  SD  adalah  kurangnya  pengetahuan  bagi  guru  SD,  serta  terbatasnya  dana  dan  sarana  tentang  bagaimana  cara  membuat  dan  menggunakan  media/alat  peraga  dalam  pembelajaran  matematika. Di  sisi  lain  pentingnya  media/alat  peraga  dalam  pembelajaran  matematika  telah  diakui  oleh  semua  jajaran  pengelola  pendidikan  dan  para  ahli  pendidikan.
            Penelitian  ini  bertujuan untuk  mengatasi  masalah  pembelajaran  penjumlahan  bilangan  bulat  di  kelas  IV  SDN  Krembung  I  semester  I  dengan  menggunakan  media  lidi.  Adapun  model  yang  diterapkan  dalam  penelitian  ini  menggunakan  langkah-langkah  berikut:  Pertama,  kegiatan  awal  meliputi: (a) Penjelasan  tentang  tujuan  pembelajaran,  (b)  Pemberian  motivasi  pembelajaran,  (c)  Apersepsi;  Kedua,  Kegiatan  Inti, memuat: (a)Pembentukan  kelompok,  (b)  Pemberian  media  lidi,  (c)  Penjelasan  singkat  tentang  cara  penggunaan  alat,  (d)  Unjuk  kerja,  (e)  Bermain   adu cepat.  Ketiga,  Kegiatan  Akhir,  memuat:  (a) Pembahasan  hasil,  (b) Pengecekan  keterampilan  melalui  tanya  jawab,  (c)  Evaluasi,  dan  (d)  Pemberian  tindak  lanjut  berupa  pekerjaan  rumah.  Tujuan    pembelajaran  dalam  penelitian  ini  adalah  dengan  menggunakan  media  lidi  dapat  meningkatkan  keterampilan  siswa  menjumlah  bilangan  bulat.
            Pendekatan  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  pendekatan  kualitatif  dengan  jenis  penelitian  tindakan  kelas.  Subyek  penelitian  ini  adalah   20  siswa  kelas  IV  SDN  Krembung  I  Kabupaten  Sidoarjo  semester  I  tahun  pelajaran  2006/2007.  Teknik  pengumpulan  data  tentang  keterampilan  siswa  menggunakan  media  pada  penjumlahan  bilangan  bulat,  dilakukan  melalui  tes  lesan  pada  awal  pelajaran,  observasi,  evaluasi  proses  pada  waktu  siswa  memperagakan  media   dan  evaluasi  tertulis  pada  akhir  pembelajaran. 
            Penelitian  ini  kami  lakukan  melalui  tiga  tahapan   tindakan  yaitu:  menggunakan  media  lidi  secara  berpasangan,  menggunakan  media  lidi  yang  berwarna  secara  berpasangan  dan  menggunakan  media  lidi  yang  berwarna  secara  perorangan.  Hasil  penelitian  ini  menunjukkan  sebagai  berikut:  Pertama,  hasil  evaluasi  proses  (pada  waktu  pelaksanaan  pembelajaran)  keaktifan  siswa  sangat  aktif  sebanyak  15%,  Kedua, sebanyak  55%,  dan  Ketiga,  sebanyak  98,3%.  Penempatan  alat  tepat  dan  penggunaan  benar  sebanyak  20%,  60%, dan  90%.  Penggunaan  alat  tepat  dan  hasil  benar  sebanyak  20%,  50%  dan  91,5%.  Hasil  evaluasi  tertulis  dari  10  soal  melalui  lembar  tes,  rata-rata  penguasaan  materi  sebesar  43,5%,  68,5%  dan  81,5%.   Secara  keseluruhan  pelaksanaan  pembelajaran  dengan  menggunakan  media  lidi,  mulai  tindakan  I,  II,  dan  III  menunjukkan  peningkatan  baik  keterampilan,  maupun  pemahaman  subyek  penelitian  terhadap  penjumlahan  bilangan  bulat. 


DAFTAR  PUSTAKA
Djoko  Moesono &  Sujono,  1998.  Matematika  4, Jakarta:  Depdibud.
Depdiknas, 2004.  Pedoman  Pengembangan  Silabus,  Jakarta.
Depdiknas, 2003. Pengembangan  Silabus  dan  Penilaian  Mata  Pelajaran  Matematika,  Jakarta.
Pujiati,  2004.  Penggunaan  Alat  Peraga  dalam  Pembelajaran  Berhitung  di  SD, Jogjakarta: PPPG  JOGJAKARTA.
Depdiknas,  2006.  Manajemen  Berbasis  Sekolah,  Jakarta.
Oemar  Hamalik, 1980. Media  Pendidikan,  Jakarta
Elly E,  1996.  Metoda  Pengajaran  Matematika  di  Sekolah  Dasar, Jogjakarta: PPPG  JOGJAKARTA.
Karim Muchtar A, 1999.  Metodologi  Pembelajaran,  Jakarta.




Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 0856-0196-7147





Sabtu, 25 Februari 2012

PTK SD 098 : Peningkatan Kemampuan Menghitung Perkalian Dengan Media Benda-Benda Terdekat pada Pelajaran Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Kludan

 ABSTRAK
xxxxxxxxxx. 2006.Peningkatan Kemampuan Menghitung Perkalian  Dengan Media Benda-Benda Terdekat  pada Pelajaran Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Kludan. Laporan Penelitian.

Kata-kata Kunci: perkalian,  benda-benda terdekat, pembelajaran matematika SD
              
              Berdasarkan hasil ulangan harian pelajaran matematika tentang perkalian bersusun menunjukkan bahwa pembelajaran kurang berhasil. Pada hal menurut informasi guru tersebut dalam pembelajaran sehari-hari sudah dijelaskan secara lisan, sudah diberi contoh-contoh, dan bahkan sudah diberai soal-soal latihan dan memberi kesempatan pada siswa  untuk bertanya, namun mereka tak memanfaatkan kesempatan tersebut.
            Rendahnya penguasaan kemampuan menghitung perkalian dalam pe,belajaran tersebut dikarenakan kurang tepatnya model pembelajaran dan media yang digunakannya. Sehingga siswa menjadi tidak aktif, mudah bosan, dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan menghitung perkalian  diperlukan model pembelajaran dengan media yang tepat. Salah satunya adalah model pembelajaran dengan menggunakan media benda-benda terdekat.
           Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghitung perkalian  siswa kelas IV SD Negeri Kludan. Lokasi penelitian ini di SD Negeri Kludan Kec. Tanggulangin dengan Jumlah siswa 49 anak, 25 anak Siswa putri dan 24 anak siswa putra. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara,angket, hasil observasi tindakan, dan hasil evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilakukan berdasar tahapan: (1) menyusun rencana kegiatan, (2) melaksanakan tindakan,(3) observasi, dan (4) analisis yang dilanjutkan dengan refleksi.
           Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut hasil observasi peneliti pada pra tindakan adalah dalam pembelajaran siswa kurang aktif, mudah jenuh, dan perhatin siswa pada penjelasan guru sangat kecil. Pada tindakan siklus-1 penguasaan materi sebelum pembelajaran diberikan 31%, setelah kegiatan berlangsung aktivitan siswa menunjukkan: siswa aktif 58%, siswa sedang 30% , dan siswa pasif 12%. Kerja sama siswa: siswa aktif 62%, siswa sedang 28%, dan siswa pasif 10%. Sedangkan hasil evaluasi rata-rata 68 dengan siswa tuntas 33 siswa dan belum tuntas 16 siswa. Hasi tindakan pada siklus-2 penguasan materi sebelun tindakan 48%. Setelah tindakan dilakukan aktivitas siswa: siswa aktif78%, siswa sedang 18% dan siswa pasif 4%. Kerja sama siswa: siswa aktif 84%, siswa sedang 14 %, dan siswa pasif 2%. Hasil evaluasi  rata-rata 76 dengan siswa tuntas 46 siswa tuntas dan 3 siswa belum tuntas.
           Berdasar hasil penelitian di atas  dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan media benda-benda terdekat dapat meningkatkan kemampuan menghitung perkalian, meningkiatkan aktivitas siswa,dan meningkatkan kerja sama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok. Pembelajaran menjadi menyengankan sehingga siswa tak mudah jenuh.     
              

DAFTAR PUSTAKA

Aqip, Zainal. 2003. Karya Tulis Ilmiah Bandung: Yrama Widya.
AZ, Mulyana. 2001. Rahasia Matematika. Surabaya: Edutama Mulya.
Degeng, Nyoman Sudana.1997. Strategi Pembelajaran. Malang: Ikip Malang.
Depdikbud. 2004. Kurikulum Pendidikan Dasar, Garis-garis Program Pengajaran (GBPP). Jakarta: Depdikbud.
Hamalik, Umar. 1982. Media Pendidikan. Bandung: Alumni.
Harmini,Sri. 2004. Model Bermain Sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Cacah Di Kelas III SD. Hasil Penelitian, tidak diterbitkan : Universitas Malang.
Kamisa. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Kartika.
Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Remaja Rosda Karya.
Puspita. 2004. Aneka Berhitung Cepat, tidak diterbitkan. Bandung: Dipakai untuk Kalangan Sendiri.
Wibawa, Basuki. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan.   




Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 0856-0196-7147

Jumat, 24 Februari 2012

PTK SD 097 : Meningkatkan Kemampuan Menghitung Luas Bangun Ruang Melalui Benda Konkret Sekitar Siswa Kelas VI SDN Candipari II Porong


 ABSTRAK


xxxxxxxxx, Meningkatkan Kemampuan Menghitung Luas Bangun Ruang Melalui Benda Konkret Sekitar Siswa Kelas VI SDN Candipari II Porong. Pembimbing: (1) Dra. Umi Dayati, M.Pd, (2) Drs. Harti Kartini, M.Pd.

Kata Kunci : Kemampuan Menghitung Luas, Bangun Ruang, Benda Konkret.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SD berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan, simbol-simbol, serta bertujuan untuk melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Anak diharapkan terampil menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kenyataan dilapangan anak-anak banyak mengalami kesulitan terutama kemampuan menghitung luas permukaan bangun ruang. Agar kemampuan menghitung luas di SD dapat ditingkatkan maka dapat memanfaatkan sumber belajar sekitar siswa yang berupa benda-benda konkret. Dengan menggunakan benda-benda konkret anak mampu melakukan aktivitas logis dalam memecahkan masalah, hal itulah sebagai cara untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di SDN Candipari II Porong Sidoarjo.
Penelitian ini menggambarkan peningkatan kemampuan menghitung luas permukaan bangun ruang. Kegiatan yang dilaksanakan memanfaatkan benda-benda konkret sekitar siswa, dalam proses pembelajaran. Selain itu mengidentifikasi kesulitan siswa untuk pemecahan masalah. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas di kelas VI SDN Candipari II Porong Sidoarjo. Data dari penelitian ini diperoleh dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam pelaksanaannya penelitian ini melibatkan teman lain sebagai pengamat dan berkolaborasi dengan teman sejawat lainnya. Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan dengan tiga siklus tindakan dan fokus yang berbeda. Siklus (1) dititik beratkan pada peningkatan kemampuan menghitung luas permukaan kubus, (2) peningkatan kemampuan menghitung luas permukaan balok, (3) keterampilan menghitung luas permukaan bangun ruang dengan bermain. Setiap siklus terdiri dari tahapan-tahapan: perencanaan, pemberian tindakan, melakukan observasi, pembuatan analisis dan refleksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Dengan melalui benda-benda konkret sekitar siswa kemampuan siswa dalam berinteraksi dapat ditingkatkan sehingga suasana kelas hidup. (2) Kegiatan pembelajaran yang memberi kebebasan siswa untuk memanipulasi sumber belajar yakni dengan benda-benda konkret dapat meningkatkan kemampuan mengukur panjang dan menghitung luas permukaan bangun ruang, serta anak lebih aktif, kreatif. (3) Kegiatan pembelajaran dengan melalui benda-benda konkret sekitar siswa sesuai dengan karakter pembelajaran matematika, dan sesuai dengan kesiapan daya pikir anak sehingga kemampuan menghitung luas permukaan kubus dan balok dapat ditingkatkan.
Dengan mengacu pada temuan dari penelitian tindakan ini peneliti menyarankan : (1) Dalam melaksanakan model pembelajaran matematika, guru hendaknya memanfaatkan benda-benda konkret sekitar siswa sebagai sumber belajar. (2) Hendaknya siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk memanipulasi benda-benda tersebut untuk mengukur, melihat, mengamati dan membentuk, sehingga suasana kelas menjadi hidup. (3) Apabila model pembelajaran ini dapat meningkatkan keahlian dan meningkatkan kemampuan siswa, maka penggunaan benda-benda konkret dapat juga diterapkan pada mata pelajaran yang lain.


DAFTAR RUJUKAN

Depdiknas. 2003. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Depdiknas
Depdiknas, 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran kelas I s/d VI. Jakarta : Depdiknas.
Depdiknas, 2004. Kurikulum 2004 Pedoman Pengembangan silabus, model pembelajaran tematis SD. Jakarta : Depdiknas
Djamarah, 1997. Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Depdikbud, 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Matematika. Jakarta : Depdikbud.
Degeng, 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi isi dengan model elaborasi. Malang : IKIP MALANG
Gpirayana, Michana dkk. 2001. Sekoah Dasar Kajian Teori dan Praktek pendidikan. Malang. UM
Hamalik Oemar, 1980. Media Pendidikan. Bandung : Alumni
Karso, 2005. Pendidikan Matematika I. Jakarta : Pusat Pendidikan UT
Soedjadi, 1994. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : Dikti



Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 0856-0196-7147




PTK SD 096 : Peningkatan Proses Pembelajaran Tentang Luas Bangun Melalui Model Kooperatif Stad dan Kuis pada Siswa Kelas VIA SDN Sadang Taman Sidoarjo


 ABSTRAK

xxxxxxxxxxxxx, 2006. Peningkatan Proses Pembelajaran Tentang Luas Bangun Melalui Model Kooperatif  Stad dan Kuis pada Siswa Kelas VIA SDN Sadang Taman Sidoarjo.Pembimbing (1) Dra. Umi Dayati, M.Pd, (2) Dra. Harti Kartini, M.Pd.

Kata Kunci: Proses Pembelajaran , Model Kooperatif STAD, Kuis.

            Pembelajaran Matematika yang disajikan dengan ceramah dan latihan-latihan individual sering tidak disukai oleh para siswa. Akibatnya hasil belajar selalu di urutan paling bawah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Padahal ilmu  matematika memiliki peranan sangat strategis dalam berbagai kehidupan. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan dapat meningkatkan hasil belajar, maka perlu adanya perubahan pembelajaran yang menarik yaitu menerapkan pembelajaran model kooperatif STAD dan kuis.
Rumusan masalah yang diajukan: (1) Bagaimanakah pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat? (2) Bagaimanakah bermain kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat ?.
Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, maka dilakukan penelitian dengan subyek 26 orang siswa SDN Sadang kelas VIA. Pengambilan data menggunakan metode observasi, angket, tes tulis dan perbuatan, serta dokumentasi. Penelitian dilakukan dengan tiga siklus. Setiap siklus dilakukan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan tindakan secara berurutan berupa: pembelajaran klasikal, pembelajaran kelompok membuat soal dan jawaban model STAD, dan kuis. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Pertemuan I pembelajaran klasikal, kerja kelompok, dan unjuk kerja kelompok dalam bentuk kuis. Pertemuan II melanjutkan unjuk kerja kelompok dalam kegiatan kuis dan evaluasi hasil belajar.
Hasil penelitian pada siklus I, aktifitas pembelajaran klasikal hanya mencapai 54,22%. Hal ini belum mencapai peningkatan proses pembelajaran yang diharapkan yaitu 60-70%. Namun pada proses pembelajaran kelompok telah mencapai 91,66% dengan target 70-80%, dan kuis mencapai 74,82% dengan target 70-80%. Sedangkan hasil belajar hanya mencapai 66,66% siswa mencapai nilai 60 - >60 dengan rerata nilai 65 sedangkan target yang ditentukan 100% tuntas mencapai nilai 60 - >60.
Untuk meningkatkan proses pembelajaran klasikal pada siklus II setiap siswa diberi peraga beberapa bangun datar untuk dibentuk menjadi berbagai  gabungan bangun dalam membuat soal. Pada Siklus II terjadi peningkatan proses pembelajaran klasikal menjadi 66,15% karena mulai ada 4 orang siswa bertanya dan 20 orang siswa mencatat, di mana pada siklus I tidak ada siswa yang bertanya dan mencatat. Proses Pembelajaran kelompok meningkat menjadi 92,85%. Dan Pembelajaran kuis meningkat menjadi 86,16%. Sedangkan hasil belajar mencapai rerata 72,3% dengan 76,92% siswa mencapai 60 - >60. Dalam proses penyampaian soal kuis menunjukkan soal-soal yang dikemukakan siswa cukup rumit, karena berupa berbagai gabungan bangun datar yang bermacam-macam. Pada Siklus III selain ada peraga untuk setiap siswa, untuk dapat menemukan rumus luas bangun ruang berdasarkan rumus luas bangun datar yang telah dikuasai siswa, juga ditambah dengan pemberian tugas rumah berupa latihan-latihan. Hal ini disebabkan kompetensi yang harus dikuasai semakin sulit. Pada siklus III terjadi peningkatan proses pembelajaran klasikal yang cukup tinggi menjadi 84,61%. Hal ini disebabkan semakin banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan sebanyak 10 siswa dan mencatat sebanyak 26 siswa. Proses Pembelajaran kelompok meningkat  menjadi 97,61%, dan proses kegiatan kuis meningkat menjadi 92,77%. Sedangkan  hasil belajar mencapai rerata 79,61% dengan 100% siswa mencapai nilai 60 - >60. Dengan demikian semua target yang ditetapkan telah tercapai.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan (1) Pembelajaran model kooperatif STAD  dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat, meningkatkan proses pembelajaran, dan hasil belajar. (2) bermain kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat, meningkatkan proses belajar, dan hasil belajar.
Maka disarankan (1) Kepada para guru, untuk meningkatkan proses pembelajaran maupun hasil belajar matematika, dapat digunakan model kooperatif STAD  sebagai pilihan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran matematika.(2) Strategi pembelajaran kuis seperti pada penelitian ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika, namun diperlukan persiapan yang matang, terutama pada saat penilaian kelompok penjawab diperlukan bantuan dari siswa yang pandai untuk membantu guru mengerjakan soal-soal yang dibuat oleh temannya. (3) Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian lanjutan sesuai dengan penelitian ini juga disarankan agar membuat persiapan yang lebih sempurna terutama dalam mempersiapkan instrumen pengamatan beserta rubrik-rubrik yang jelas pada saat kegiatan kuis. Juga disarankan agar tim pengamat minimal dua orang, karena menurut pengalaman peneliti tim pengamat sangat sibuk dalam menilai pada saat kegiatan kuis.


DAFTAR RUJUKAN
Arikunto,Suharsimi & Suharjono & Supardi. 2006, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Agama RI. 2001. Bahan Penataran ( Modul Metodologi Pendidikan Agama Islam) Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Departemen Agama RI. 2004. Strategi Pembelajaran Matematika untuk Tingkat Madrasah Aliyah. Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan.
De Porter, Bobbi. 2001. Quantum Teaching, Bandung: Kaifa.
Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo. 2005. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Kelas VI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Sidoarjo: Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo
Hasibuan & Mujiono. 2004. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nur, Mohammad. 1998. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: PPS IKIP Surabaya.
Nur, Mohammad. 2003. Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pembelajaran sebagai Salah Satu Prasyarat Utama Pengimplementasian Kebijaka-kebijakan Inovatif Depdiknas dalam Merespon Tuntutan dan Tantangan Masa Depan. Makalah disajikan dalam Wisuda VII Pascasarjana Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 20 Desember 2003.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta: Cemerlang.
Wardani, I.G.A.K. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas terbuka Departemen Pendidikan Nasional.
Riyanto, Yatim. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Penerbit SIC.
Yuwono, Trisno & Abdullah Pius. 1994. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis. Surabaya: Arkola.

Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 0856-0196-7147





Rabu, 22 Februari 2012

SP 096 : Analisis Kinerja Birokrasi Pemerintah (Kasus Pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bone)


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan paradigma studi ilmu administrasi negara sangat cepat dan mengikuti perubahan lingkungan yang mempengaruhinya. Seperti studi yang sistematis yang dilakukan oleh Nicholas Henry (1995) yang mengelompokkan paradigma administrasi negara atas; (a) dikhotami politik administrasi, (b) paradigma prinsip-prinsip administrasi negara, (c) paradigma administrasi negara sebagai ilmu politik, (d) paradigma administrasi negara sebagai ilmu administrasi, dan  (e) paradigma administrasi negara sebagai ilmu administrasi negara sampai pada tahun 1970. Setelah tahun 1970, paradigma administrasi negara berkembang menjadi paradigma administrasi pembangunan (J.B Kritiadi:1997). Dalam paradigma ini peran pemerintah dalam pembangunan negara-negara berkembang sangatlah besar. Oleh karena itu menurut Abdullah (1984) peran administrasi pembangunan dalam proses pembangunan adalah sebagai ”Agen of Change”. Hal ini berarti proses perencanaan, perumusan kebijaksanaan, implementasi dan pengendalian pelaksanaan pembangunan semuanya dilakukan oleh pemerintah.
Studi yang dilakukan oleh David Osborne dan Gaebler (1992) menggugat tesis tersebut, bahwa pemerintah tidaklah cukup mampu untuk melakukan sendiri kegiatan sektor  publik; pemerintah tidak memiliki cukup biaya untuk membiayai kegiatan sektor publik. Oleh karena itu keterlibatan unsur swasta, masyarakat dan kelembagaan masyarakat lainya dalam menyelenggarakan sektor publik merupakan pilihan tepat untuk menciptakan efisiensi, efektifitas, pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Dari sinilah peran pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan sektor publik berubah, dimana tidak hanya pemerintah yang terlibat dalam proses pembangunan, tetapi pihak swasta, kelembagaan masyarakat dan LSM merupakan tiga pilar utama yang harus berperan aktif dalam melakukan proses pembangunan.
Salah satu fungsi pemerintah yang utama adalah menyelenggarakan pelayanan umum sebagai wujud dari tugas umum pemerintahan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Birokrasi merupakan instrumen pemerintah untuk mewujudkan pelayanan publik yang efisien, efektif, berkeadilan, transparan dan akuntabel. Hal ini berarti bahwa untuk mampu melaksanakan fungsi pemerintah dengan baik maka organisasi birokrasi harus profesional, tanggap, aspiratif terhadap berbagai tuntutan masyarakat yang dilayani. Seiring dengan hal tersebut pembinaan aparatur negara dilakukan secara terus menerus, agar dapat menjadi alat yang efisien dan efektif, bersih dan berwibawa, sehingga mampu menjalankan tugas-tugas umum pemerintah maupun untuk menggerakkan pembangunan secara lancar dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian terhadap masyarakat.
Seiring dengan hal tersebut Abdullah (1984) mengatakan bahwa determinan penting untuk meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah adalah dibutuhkan ”Infra-Struktur Admnistrasi” yang memiliki kesiapan dan ketangguhan pada semua tingkatan dan tahapan yang meliputi : (a) organisasi pelaksana yang berintikan birokrasi yang mantap dan tangguh; (b) sistem administrasi atau tata laksana yang efektif dan efisien; dan (c) susunan aparatur atau personalia yang berkemampuan tinggi dari segi profesional, orientasional yang disertai rasas dedikasi yang tinggi. Hal ini berarti bahwa kinerja birokrasi pemerintah dalam merencanakan, mengimplementasikan dan evaluasi serta pengendalian proses pembangunan dan pelayanan masyarakat sangat ditentukan oleh faktor kelembagaan, ketatalaksanaan, sumber daya manusia, aparatur dan dukungan sarana dan prasarana yang tersedia.
Sorotan tajam tentang kinerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik menjadi wacana yang aktual dalam studi administrasi negara akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan dan pada sisi lain munculnya konsep privatisasi, swastanisasi, kontak kerja yang pada intinya ingin meminimalkan campur tangan pemerintah yang terlalu besar dalam pelayanan publik (Savas, 1983, Osborne, 1992).
Studi yang dilakukan oleh Savas (1983), LAN Jawa Barat (1999) menunjukkan bahwa kinerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik lebih rendah ketimbang yang dilakukan oleh pihak swasta atau kelembagaan masyarakat lainnya. Bahkan Savas mengatakan bahwa tugas pemerintah adalah mengarahkan bukan mengayuh perahu. Memberikan pelayanan adalah mengayuh dan pemerintah tidaklah pandai mengayuh.
Di kalangan masyarakat masih terdapat keluhan berbagai pelayanan pemerintah (birokrasi) bahkan pameo masyarakat mengatakan bahwa kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah dan bila ada pilihan lain untuk mendapat KTP selain dari Kantor Kelurahan dan Kantor Kecamatan, maka saya akan memilih ke Supermaket karena disana pegawainya ramah, suka senyum, menanyakan apa yang dapat dibantu. Sebaliknya kalau anggota warga masyarakat ke kantor Kelurahan atau Kecamatan sangat paradoksal dengan apa yang terjadi di Supermaket untuk mendapat pelayanan (Zanapiha, 1999).
Selama ini seperti yang diakui oleh Moestopadidjaja (1997) bahwa pelayanan publik oleh birokrasi cenderung dipersulit, prosedur berbelit-belit, rendahnya ketidakpastian   waktu  pelayanan. Gejala ini oleh Bryant dan White (1987) sebagai suatu gejala ketidak mampuan administratif, umumnya terjadi di Negara-negara sedang berkembang.
Penilaian kinerja birokrat pemerintah selama ini cenderung didasarkan pada faktor-faktor input seperti jumlah pegawai, anggaran, peraturan perundangan dan termasuk pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan; dan bukan pada faktor-faktor output atau outcomes-nya, misalnya tingkat efisiensi biaya, kualitas layanan, jangkauan dan manfaat pelayanan yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu dalam praktek penyelenggaraan pelayanan publik masih terdapat berbagai masalah antara lain perbedaan antara kinerja yang diharapkan (intended perfomance) dengan praktek sehari-hari (actual perfomance), perbedaan antara tuntutan kebutuhan masyarakat dengan kemampuan pelayanan aparatur pemerintah, perbedaan antara keterbatasan sumber daya anggaran pemerintah dengan kebocoran pada tingkat pelaksanaanya (LAN Jawa Barat, (1999). Studi lainnya dilakukan oleh Hardjo Soekarto (1999) menunjukkan bahwa pelayanan publik selama ini masih menunjukkan mental model birokrat sebagai yang di layani oleh masyarakat, bukan  justru sebaliknya aparat yang harus melayani masyarakat. Hal ini terjadi karena pendekatan kekuasaan birokrasi lebih dominan ketimbang keberadaan aparatur sebagai pelayan masyarakat. Kekuasaan birokrat sangat kuat sekali dan bahkan tak ada organisasi sosial kemasyarakatan yang mampu mengontrolnya sehingga praktek penyelenggaraan pelayanan publik selama ini yang menjadi beban masyarakat dan birokrat cenderunng melakukan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Mohammad, 1999).
Sementara itu peran aparatur negara (birokrasi) sejak beberapa dekade yang lalu lebih disiarkan sebagai penyandang dua peran yaitu sebagai Abdi Negara dan sebagai Abdi masyarakat dan peran sebagai abdi negara menjadi sangat dominan ketimbang peran sebagai abdi masyarakat. Siklus pelayanan lebih berakses ke kekuasaan birokrasi ketimbang melayani masyarakat. Akibatnya aparatur cenderung melayani dirinya sendiri dan meminta layanan dari masyarakat (Thoha, 1993, Idrus, 1995). Berkaitan dengan hal ini Kaufman (1976) mengatakan bahwa tugas aparatur sebagai pelayan harus lebih diutamakan terutama yang berkaitan dengan mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan masyarakat, mempersingkat waktu proses pelaksanaan urusan publik dan memberikan kepuasan publik.
Berdasarkan studi yang dilakukan LAN Sulsel (1997) menunjukkan bahwa pelayanan aparat birokrat terhadap masyarakat/ dunia usaha masih menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya 4.396 jenis pungutan yang dilakukan aparatur mulai dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Dari jumlah pungutan tersebut, sekitar 27% dari total biaya produksi dialokasikan untuk memperoleh pelayanan aparatur. Hal ini menunjukkan birokrat menjadi penghambat bagi tumbuhnya daya asing masyarakat itu sendiri.
Tjokroamidjojo (1988) mengidentifikasi ada empat faktor besar yang menghambat  efisiensi administrasi negara (birokrasi), yaitu : (1) kecenderungan membengkaknya birokrasi baik dalam arti struktur maupun luasnya campur tangan terhadap kehidupan masyarakat, (2) lemahnya kemampuan manajemen pembangunan baik dalam perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, dan pengawasan, dan (3) rendahnya produktivitas pegawai negeri. Sementara Siagian (1987), mengidentifikasikan ada tiga jenis kelemahan yang melekat pada pegawai negeri (birokrat) kita, adalah (1) kemampuan manajerial, yaitu kurangnya kemampuan memimpin, menggerakkan bawahan, melakukan koordinasi dan mengambila keputusan, (2) kemampuan teknis, yaitu kurangnya kemampuan untuk secara terampil melakukan tugas-tugas, baik yang bersifat rutin, maupun yang bersifat pembangunan, dan (3) kemampuan teknologis, yaitu kurangnya kemampuan untuk memanfaatkan hasil-hasil penemuan teknologi dalam pelaksanaan tugas.
Penelitian LAN Perwakilan Sulawesi Selatan (2000) tentang tingkat kemampuan tenaga perencana Pembangunan di Kawasan Timur Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan tenaga perencana pembangunan masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya iklim organisasi yang mendukung berkembangnya kemampuan pegawai, tak ada kebijakan tentang jabatan fungsional perencana dan rendahnya penghargaan pemerintah terhadap jabatan tersebut sehingga motivasi tenaga perencana untuk mengembangkan diri masih rendah. Studi lain adalah yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa profesionalisme pegawai rendah, baik dilihat dari tingkat pendidika, pengalaman, produktivitas kerja, ataupun disiplin kerja terbukti rendah (PPK-UGM, 1991/1992:2). Penelitian yang sama oleh FISIPOL-UGM pada kantor Bappeda di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Lombok menemukan bahwa penampilan Bappeda sangat dipengaruhi oleh para aparatnya dalam menjalankan fungsi-fungsi perencanaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi; juga oleh tingkat profesionalisme pegawai, organisasi dan mutu kepemimpinan dalam lembaganya (FISIPOL-UGM, 1991:4).
Studi empiris lain yang berkaitan dengan kinerja organisasi pemerintah dilihat dari pendekatan proses misalnya penelitian yang dilakukan oleh Baddu (1994), suatu analisis tentang prestasi kerja dan hubungannya dengan kepuasaan dan semangat kerja pada Kantor Setwilda Tk. I Sul-Sel, penelitian yang dilakukan oleh Thahir, M.M. (1997), suatu analisis tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja pegawai pada kantor Kopertis Wilayah IX Ujung Pandang.
Beberapa penelitian empiris di atas baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang dilakukan oleh kalangan akademik menunjukkan bahwa penelitian tentang kinerja birokrasi pemerintah dilihat dari sudut pendekatan proses masih bersifat parsial, yaitu hanya berkaitan dengan analisis pada tingkat individu pegawai, tetapi belum melihat secara komprehensif dari sudut kinerja birokrasi pemerintah secara keseluruhan.
Semua ini menunjukkan bahwa kerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik masih memerlukan kajian yang mendalam dan sungguh-sungguh sehingga peran birokrasi sebagai instrumen masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dapat diwujudkan.
Kasus pelayanan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten khususnya di Kabupaten Bone menarik dikaji terutama yang berkaitan dengan perumusan kebijakan, implementasi, pengendalian dan evaluasi melibatkan birokrat daerah (lokal). Disamping itu pula pelayanan pendidikan ini menyentuh kebutuhan seluruh masyarakat.
Penelitian ini diarahkan untuk mengevaluasi dan menjelaskan fenomena kinerja birokrasi pemerintah kasus pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dengan menggunakan pendekatan proses (internal process approach), terutama memahami dan menjelaskan fenomena dalam hal efisiensi pelayanan, kerja, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan. Variabel kinerja ini penting diteliti karena didasarkan atas alasan bahwa kinerja output yang diberikan kepada lingkungan akan sangat tergantung pada tinggi rendahnya kinerja proses. Hal ini berarti organisasi birokrasi pemerintah tak dapat meningkat kebertanggungjawabannya (accountability), kepercayaan, menciptakan keadilan, efektivitas eksternal dan kepuasan masyarakat sebagai indikator kinerja eksternalnya tanpa memiliki kinerja internal yang baik.

  
B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaimana kinerja birokrasi pemerintah khususnya berkaitan dengan efesiensi organisasi, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan pada Dinas Pendidikan di Kabupaten Bone ?
  2. Faktor apa yang mendukung dan menghambat kinerja birokrasi pemerintah khususnya berkaitan dengan efesiensi pelayanan, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan pada  Dinas Pendidikan Kabupaten Bone ?



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Syukur, M., Aspek Kepemimpinan Dalam Birokrasi (Pengembangan Kemampuan Administrasi Dalam Menunjang Pembangunan Nasional, Persadi, Ujung Pandang, 1984.
Ahmad, Baddu, Suatu Analisis tentang Prestasi Kerja dan Hubungannya dengan Kepuasaan dan Semangat Kerja pada Kantor Setwilda Tk. I Sulsel, Tesis S2 Unhas, Ujung Pandang, 1994.
Albrow, Martin, Birokrasi, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 1989.
Armstrong Michael and Angela Baron, Performance Management the New Realities, Isntitute of Personnel and Development, London, 1998.
Creech, Bill, Lima Pilar Manajeme Mutu Terpadu (Cara membuat Total Qualitty Manajemen Bekerja Bagi Anda), Binarupa Aksara, Jakarta, 1996.
Dajan, Anton, Pengantar Metode Statistik, LP3ES, Jilid I, Jakarta, 1993.
Drucker, Peter, F., Managing In a Time of Great Change (Manajemen di Tengah Perubahan Besar), Efek Media Komputelindo, Jakarta, 1997.
Frederickson, H., George, Administrasi Negara Baru, LP3ES, Jakarta, 1984.
Fisipol UGM, Peranan Bappeda Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah di Indonesia, 1991
Gaspersz, Vincent, Manajemen Kualitas (Penerapan Konsep-konsep Kualitas Dalam Manajemen Bisnis Total), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997.
Gibson, dkk., Organisasi: Perilaku, Struktu dan Proses,Binarupa Aksara, Jilid I & II, Jakarta, 1996.
Haselbein, Frances, Marshall Goldsmith, Ricard Beckhard, The Organization of The Future (Organisasi MAsa Depan), PT Elex Media Komputindi, Jakarta, 1997.
Henry, Nicholas, Administrasi Negara dan Masalah-masalah Publik, Rajawali Press, Jakarta 1995.
Kartaningsih, Elis, Gagasan Penilaian Kinerja Pelayanan Umum:Institusi Mekanisme dan Instrumen Penilaian, Jurnal Wacana Kinerja, No. 4 Thn 1, LAN Jawa Barat, 1999.
Kartasasmita, Ginanjar, Administrasi Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1997.
__________, Pembangunan untuk Rakyat (Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan), CIDES, Jakarta, 1996.
Kerlinger, Fred, N, Asas-asas Penelitian Behavioral, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1995.
Korten, Frances, F., Robert Y., Siy, Jr., 1998, Transforming a Bureaucracy (the Experience of the Philipine National Irrigation Administration), Ateneo De Manila University Press.
Kristiadi, J.B, Persfektif Administrassi Publik Menghadapi Tantangan Abad 21, Jurnal Administrasi dan Pembangunan, Edisi, Khusus, Volume I No. 2, 1997.
___________, Administrasi/Manajemen Pembangunan, LAN, Jakarta, 1994.
LAN Perwakilan Jawa Barat, 1998, Pelayanan Kebersihan Kota (Hasil Penelitian).
LAN, Pengetahuan Tentang Visi dan Misi, Jakarta, 1998.
___________, Strategi Pelayanan Prima, Jakarta, 1999.
___________, Konsep Pengembangan Tentang Pelayanan Prima, Jakarta, 1998.
Lubis, Hari, S.B, Martini Huseini, Teori Organisasi )suatu Pendekatan Makro), PusatAntar Universitas Ilmu-ilmu Sosial – UI.
M., M, Tahir, Suatu Analisis tentang Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kepuasan Kerja Pegawai pada Kantor Kopertis Wilayah IX,Tesis S2 Unhas, Ujung Pandang, 1997.
Makmur H, M.Si, Filsafat Administrasi, Bumi Aksara, Jakarta, Februari 2006
Mallo, Manase, Sri Trisnoningtias, Metode Penelitian Masyarakat, Pusat Antar Universitas Ilmu-ilmu Sosial – Universitas Indonesia.
Muhammad Arif Tiro, Instrumen Penelitian Sosial-Keagamaan, Andira Publisher, Makassar, Januari 2005
Muhammad Arif Tiro, Metode Penelitia Sosial-Keagamaan, Andira Publisher, Makassar, Januari 2005
Muhammad Arif Tiro, Masalah dan Hipotesis Penelitian Sosial-Keagamaan, Andira Publisher, Makassar, Mei 2005
Murtir Jeddawi, Hukum Pemerintahan Daerah, UII Pres Yogyakarta, Watampone, 2006
Mustopadidjaja, AR & Bintoro, Tjokroamodjojo, Administrasi Negara, Demokrasi dan Masyarakat Madani, LAN, Jakarta, 1999.
__________, Format Pemerintahan Menghadapi Abad 21, Jurnal, Administrasi & Pembangunan, Edisi Khusus, Vol. I No. 2, LP3ES, Jakarta, 1997.
Nazir, Moh., Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985.
Nisjar, Karhi, S., Beberapa Catatan Tentang Good Governance, Jurnal Administrasi & Pembangunan, Edisi Khusus, Vol. I, No. 2, LP3ES, Jakarta 1997.
PERSADI, Pembangunan Administrasi di Indonesia, Jakarta, 1985.
Prawirosentono, Suyadi, Kebijaksanaan Kinerja Karyawan (Kiat Membangun Organisasi Kompetitif Menjalang Perdagangan Bebas Dunia), BPFE, Yogyakarta, 1999.
Quigley, V., Joseph, Vision (How Leaders Develop It, Share It, and Sustain It, Quigley and Associates, Inc, New York, 1993.
Rasyid, Ryaas, Pembangunan Pemerintahan Indonesia Memasuki Abad 21, Jurnal Adminsitrasi & Pembangunan, Edisi Khusus, Vol. I, No. 2, LP3ES, Jakarta, 1997.
Robbins, Stephen, Perilaku Organisasi (Konsep, Kontroversi, Aplikasi), Prenhalinde, Jakarta, 1996.
Savas, E. S., Privatization : The Key to Better Government, Chatham House Publisher, Inn., New Jersey, 1987.
Senge, Peter, M., The Fifth Dicipline (The Art and Practice of the Learning Organization), Doubleday Dell Publishing Group, 1997.
STIA Prima Sengkang, Pedoman Penyusunan Tesis Program Pascasarjana, Sengkang, September 2004
Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung, 1987.
Syamsiah Badaruddin, Pembangunan Nasional & Pembangunan Regional, Lukman al-Hakim, Watampone, 2006
Tjokroamidjojo, Bintoro, Pengantar Adminsitrasi Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1985.
Thoha, Miftah, Perspektif Perilaku Birokrasi (Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara), jilid II, Rajawali Press, Jakarta, 1987.
___________, Pokok-pokok pikiran Tentang Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa, Jurnal Administrasi dan PembangunanVol. I No. 2, LP3ES, Jakarta, 1997.
Osborne, David, Ted, Gaebler, Mewirausahakan Birokrasi: Mentransformasikan Semangat Wirausaha ke Dalam Sektor Publik, PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1992.
Osborne, David and Plastrik, Peter, Banishing Bureaucracy (The Five Strategic For Reinventing Government) Eddision Wesley Publishing Company, Inc., 1998.
Williams, S., Richard, Performance Management: Perspectives on Employee Performance, International Thomson Business Press, London, 1998. 


Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887
 

Selasa, 21 Februari 2012

PTK 095 = Pd 587 : PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS III SD NEGERI I SIMO KECAMAT.AN SIMO KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2009/2010


 ABSTRAK


 xxxxxxxxxxxxxxxxx. PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS III SD NEGERI I SIMO KECAMAT.AN SIMO KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2009/2010. Skripsi, Surakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas sebelas Maret Surakarta, Oktober 2009.

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk (1) meningkatkan hasil belajar matematika melalui Pendekatan Kontekstual pada siswa kelas III SD Negeri 1 Simo Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2009/2010. (2) Mendiskripsikan kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan Pendekatan Kontekstual amok meningkatkan hasil belajar matematika (3) Memaparkan bagaimana cara mengatasi kendala penerapan Pendekatan Kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar matematika SD Negeri I Simo.
Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas III SD Negeri 01 Simo. Tehnik pengumpulan data menggunakan, observasi., dan tes. Tehnik analisis data menggunakan tehnik deskriptif interaktif yang terdiri dari tiga komponen analisis yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas III SD Negeri I Simo, yaitu ditandai dengan Siswa kelas III sebanyak 36 anak mengalami peningkatan hasil belajar yaitu sebehun tindakan hanya 38,92 % siswa belajar tuntas setela.h tindakan menjadi 100%. (2) Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam penerapan Pendekatan Kontekstual amok meningkatkan hasil belajar matematika antara lain guru kurang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (respon siswa kurang), aktivitas siswa kurang, dan masih kurangnya ketuntasan belajar siswa kelas III SDN I Simo.
Cara mengatasi kendala penerapan Pendekatan Kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas III SD Negeri 1 Simo Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2009/2010 adalah guna harus terampil dalam menerapkan pendekatan kontekstual diantaranya : (1) mengkaji konsep dan kompetensi dasar yang akan dipelajari oleh siswa, (2) memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian
secara seksama, (3) mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan mengaitkamiya dengan korasep dan kompetensi yang akan dibahas dalam proses pembelajaran kontektual, (4) merancang pembelajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dilingkungan kehidupan mereka, (5) melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan / pengalaman yang telah dimiliki sebehunnya dan mengaitkan apa yang dipelajarinya dengan fenomena kehidupan sehari-hari, (6) melakukan penilaian terhadap pemahaman siswa. Hasil penilaian tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap rancangan pembelajaran dari pelaksanaan.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikte Departemen Pendidikan Nasional.
Amir. 2007. Dasar-dasar Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Surakarta: UNS Press.
Andayani. 2009. Pembelajaran Inovatif Sebagai Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru. Surakarta: Pusat Pergembangan dan Pelatihan Guru Profesional (P3GP).
Baharudin dan Esa Nur. Wahyuni. 2007 Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Darmono LS, Suharyanto. 2006. Buku Ajar Fokus. Surakarta: CV. Sindhunata.
Darmono LS, Suharyanto.200G. Buku Ajar Fokus. Berdasarkan Standar Isi 2006. Surakarta: CV. Sindhunata.
Damyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta bekerjasama dengan Depdikbud.
Garnida, Dadang. 2008. Pendekatan IPA di Sekolah Dasar. Bandung: Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan P4TK TK dan PLB.
Gtno, HJ, dkk, 2000. Belajar Dasar Pembelajaran. Surakarta: UNS Press
I. G. A. K Wardani. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka
Khafid, Suyati. 2004. Pelajaran Matematika Penekanan pada Berhitung Untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga.
KTSP SD/ MI 2007
Mulyono Abdurrahman, 2003. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. PT. Rineka Cipta.
Murniati, Endyah. 2007. Kesiapan Belajar Matematika di Sekolah Dasar. Surabaya: Surabaya Intelectual Club (SIC).
Nana Sudjana. 2002. Penilaian Hasil proses belajar mangajar. Band Rasdakarya.
Nurhadi; Senduk, A.G. 2003. Pembelajaran Kontesktual (Contextual Teaching and Learning CTL) dan Penerapannva dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang (UMPRESS).
Oemar Hamalik. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Purwo Darminto. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Purwoto; Marwiyanto. 2002. Pendidikan Matematika Materi Penataran Tertulis -Sistem Belajar Mandiri. Bandung: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar & Menengah.
Ranti. 2007. Penilaian Hasil Belajar. (http://one.indoskripsi.com) diunduh tanggal 8 Februari 2009.
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Sarwiji Suwandi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Slamet,St.Y; Suwarto. 2007.Dasar-dasar Metodolog,i Penelitian Kualitatif Surakarta: UNS Press.
Soewito. 1993. Pendidikan Matematika I Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Sugiyanto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifkasi Guru Rayon 13.
Sullarsimi Arikunto dan Sugiarto. 2009. Peningkatan Profesi Ilmiah Guru melalui Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional. Surakarta UNS.
Sulis. 2007. Studi Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Kemampuan Berhitang, Sumber Bahan Ajar dan Suasana Kelas di SLTP Negeri I Ngrompol Sragen. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta UMS Surakarta.
Suminarsih. 2007. Model-model Pembelajaran Matematika. Semarang: Widyaiswara LPMP Jawa Tengah.
Sunarsih, Cicih. 2007. Dasar-dasar Proses Beajar  Bandung : Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan. dan Tenaga Kependidikan P4TK TK dan PLB.
Syaifudin ____________. Arimatika Metode cerdas : Diklat Smart Arimatika matematika itu mudah Matematika yang kusuka.  Jakarta: GP Press.
Wulandari, Fibrianti. 2007. Pengaruh Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning-CTL dalam Pemecahan Masalah Matematika terhadap Prestasi Belajar Siswa. Skripsi tidak ditebitkan. Surakarta. UNS Surakarta.
http: ipotes. wordpress. corn 2009/04/23 – pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning
http: ipotes. wordpress. corn 2009/04/23 – pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning
http: ipotes. wordpress. corn 2009/04/23 – pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning Belajar Matematika.
Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 0856-0196-7147