HP. 085 725 363 887

Pencarian

Memuat...

Kamis, 29 November 2012

PTK SMP 048 : Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling Untuk Mengatasi Perilaku Menyimpang Siswa Kelas IX B SMP Negeri 3 Widodaren Kabupaten Ngawi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pada abad modern sekarang ini, perkembangan masyarakat sudah sangat maju. Segala bidang kehidupan masyarakat maju dengan pesat, termasuk dalam bidang hukum dan teknologi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, maka akan membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif adalah membawa kehidupan yang lebih cepat dan menjamin kemudahan, sedangkan dampak negatifnya adalah dengan semakin meningkatnya kejahatan dan pelanggaran.
Masyarakat modern yang serba komplek sebagai produk kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi memunculkan banyak masalah sosial. Usaha adaptasi atau penyesuaian diri terhadap masyarakat modern yang sangat kompleks itu menjadi tidak mudah. Kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan banyak kebimbangan, kebingungan, kecemasan dan konflik, baik konflik eksternal yang terbuka maupun yang internal dalam batin sendiri yang tersembunyi dan tertutup sifatnya.
Sebagai dampak dari kondisi yang semacam ini banyak orang lalu mengembangkan pola tingkah laku menyimpang dari norma-norma hukum, dengan jalan berbuat semaunya sendiri demi keuntungan sendiri dan kepentingan pribadi, kemudian mengganggu dan merugikan pihak lain.
Pada zaman modern seperti sekarang ini bertemulah banyak kebudayaan sebagai hasil dari makin akrabnya komunikasi daerah, nasional dan internasional. Percampuran bermacam-macam budaya itu dapat berlangsung lancar dan lembut, akan tetapi tidak jarang berproses melalui konflik personal dan sosial yang hebat. Banyak pribadi yang mengalami gangguan jiwani dan muncul konflik budaya yang ditandai dengan keresahan sosial serta ketidakrukunan kelompok-kolompok sosial. Sebagai akibat lanjut timbul ketidaksinambungan, disharmoni, ketegangan, kecemasan, ketakutan, kerusuhan sosial dan perilaku yang melanggar norma-norma hukum formal. Situasi sosial yang demikian ini mengkonsionir timbulnya banyak perilaku paotogis sosial atau sosiopatik yang menyimpang dari pola-pola umum, sebab masing-masing orang hanya menaati norma dan peraturan yang dibuat sendiri.
Sebagian besar dari mereka bertingkah laku seenak sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, bahkan suka merampas hak-hak orang lain. Akibatnya muncullah banyak masalah sosial yang disebut dengan tingkah laku sosiopatik, deviasi sosial, disorganisasi sosial, disintegrasi sosial dan diferensiasi sosial.
Kenakalan remaja merupakan bagian dari masalah sosial yang seringkali muncul di berbagai daerah. Perkembangan remaja yang saat ini terjadi sangat relevan dengan perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku, sehingga seringkali pergaulan ini menyebabkan masalah sosial apabila tidak ada pengawasan yang ketat dari berbagai pihak yang terkait seperti keluarga, lingkungan, pemerintah maupun sekolah.
Tingkah laku menyimpang menurut Supartinah Sadli yang dikutip oleh Sofyan S. Willis adalah “Tingkah laku yang melanggar atau bertentangan atau menyimpang dari aturan-aturan normatif.” Dari definisi ini jelaslah bahwa asumsi  terhadap tingkah laku yang menyimpang ditentukan oleh norma-norma yang dianut oleh anak. Masyarakat adalah komunitas terakhir yang menentukan apakah anak melakukan perilaku menyimpang.
Dalam mengikuti tuntutan masa depan, pelaksanaan pembangunan bidang pendidikan menjadikan sesuatu hal yang sangat penting, karena dengan pendidikan orang akan mengenal, memahami, dan menyesuaikan dengan lingkungan, dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan diharapkan siswa didik menjadi lebih mampu dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi sehingga diperoleh solusi terbaik dari permasalahan itu. Sedangkan tujuan pendidikan seperti yang digariskan dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1998 adalah :
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertagwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan bangsa.
Tujuan pembelajaran di dalam sekolah adalah menitikberatkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada siswa dan teramati hal tersebut menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar. Dalam pola pelaksanaan pendidikan tidak terlepas peran keluarga, sekolah maupun masyarakat, bahkan dari kenyataan bahwa pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama yang kehidupan anak-anak maupun menerapkan sebagai makhluk sosial, disamping itu keluarga sangat berperan dalam pembentukan watak, tingkah laku, moral dan pendidikan kepada anak. Disamping itu keluarga juga sebagai tempat untuk belajar memahami dirinya tempat belajar tentang norma yang ada itu.
Adapun pengajar dalam hal ini guru tugas utamanya adalah mendidik, melatih, membimbing siswa untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Guru dalam melaksanakan tugasnya diharapkan dapat membantu siswa sebagai individu yang dalam hal ini dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat modern, disamping tugas pengajar belum selesai atau berakhir setelah menyampaikan materi pelajarannya dikelas. Sebagai pendidik, guru juga bertanggungjawab memberikan binaan, bimbingan siswa-siswanya dalam menyelesaikan masalah sehari-hari, sehingga siswa betul-betul mampu mandiri dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip-prinsip dan teori-teori yang telahmereka dapatkan dibangku sekolah. Disamping guru sebagai seorang pengajar, guru juga seorang tenaga professional yang memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia pendidikan, guru harus mampu memberikan keputusan pelayanan dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru harus mampu memilih dan menerapkan strategi serta metode pembelajaran, metode pelayanan bimbingan yang cocok, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang demokratis dan dapat menyenangkan siswa.
Hal semacam ini belum semuanya dapat dilaksanakan oleh semua guru pada saat mengajar, mengingat semua guru belum semuanya menggunakan metode konvensional, termasuk di SMP Negeri 2 Randublatung. Maka hasil yang diperoleh belum memenuhi ketuntasan belajar yang disyaratkan secara nasional. Kondisi yang sesuai dengan kenyataan masih kurangnya guru pembimbing di SMP Negeri 2 Randublatung mengingat idealnya seorang guru pembimbing mengasuh / membimbing 150 siswa padahal di SMP Negeri 2 Randublatung hanya ada seorang guru pembimbing yang masih jauh dari harapan.  

B.  Perumusan Masalah
Agar permasalahan yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan penulisan PTK mencapai tujuan yang diinginkan maka perlu disusun perumusan masalah yang didasarkan pada latar belakang dan pembatasan masalah dimana perumusan tersebut antara lain : Apakah dengan menggunakan layanan bimbingan pribadi dapat mengatasi kenakalan siswa kelas VII D di SMP Negeri 2 Randublatung ?

C. Tujuan Penelitian
Dalam suatu penelitian, pastilah ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dari penelitian dalam penulisan penelitian  ini adalah :
1.      Untuk mengetahui tingkat kenakalan siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung
2.      Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kenakalan siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung
3.      Untuk mengetahui efektivitas pelayanan bimbingan pribadi dalam mengatasi kenakalan siswa pada kelas VIID SMP Negeri 2 Randublatung

D.  Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
a.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru dalam pelayanan bimbingan terhadap murud.
b.      Hasil penelitian ini diharapkan bisa melukiskan bagaimana proses pemberian bimbingan pada siswa disekolah.
2.      Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan dan saran bagi guru dan pihak sekolah dalam menerapkan metode yang tepat dalam pelayanan bimbingan kepada siswa sekolah.


DAFTAR PUSTAKA
Agus Sulistyo dan Adi Mulyono. 2004. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surakarta : Penerbit Ita.
Bambang Sujiono. 2005. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.
Bambang Sujiono. 2005. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.
Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas, Dirjen PDM Direktorat Tenaga Kependidikan.
Edi Purwanta. 2005. Modifikasi Perilaku. Jakarta : Departemen Pendidikan tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.
Harris Clemes dan Reynold Bean. 2001. Mengajarkan Disiplin Kepada Anak. Jakarta : Mitra Utama.
Suryadi. 2006.  Kiat Jitu dalam Mendidik Anak. Jakarta : Penerbit Mahkota.


Untuk mendapatkan file lengkap silahkan hubungi/ sms ke HP. 085725363887






Senin, 26 November 2012

PTK SMP 047 : Upaya Meningkatkan Ketrampilan Menulis Dengan Menceritakan Berbagai Macam Gambar Pahlawan Bagi Siswa Kelas VII E SMP Negeri 1 Ceper Kabupaten Klaten Tahun Pelajaran 2006/2007


 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebuah pepatah mengatakan “Kuasai dunia dengan bahasa”. Dari pepatah tersebut  dapat dilihat bahwa bahasa  merupakan bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahasa digunakan sebagai media komunikasi dengan orang-orang sekitar dalam suatu komunitas tertentu. Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan manusia untuk bisa berkomunikasi secara effective semakin tinggi. Arus perkembangan globalisasi menuntut manusia untuk bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Sejalan dengan itu, masyarakat kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia mengingat bahasa Indonesia merupakan  bahasa yang dianggap sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam komunikasi dengan orang dari berbagai pulau di Indonesia. Oleh karenanya, di negara kita pembelajaran bahasa Indonesia sudah dimulai dari SD sampai dengan SMA dan sampai ke tingkat perguruan tinggi.
Menurut pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti, pembelajaran bahasa Indonesia khususnya materi menulis  di kelas VII E  SMP Negeri 1 Ceper  kurang berjalan dengan baik. Ada hal-hal yang kurang mendukung dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang selama ini berjalan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, proses belajar mengajar kurang melibatkan siswa dalam kelas. Proses belajar mengajar terkesan monoton dan kurang ada variasi baik dalam metode pengajaran atau metode penyampaian materi, media pembelajaran, ataupun materi yang diajarkan. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Materi yang disampaikan hanya bersumber dari modul yang disediakan oleh sekolah.
Dari hasil pengamatan tersebut dapat dilihat bahwa keterlibatan siswa dalam kelas masih sangat kurang. Mengingat pentingnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia. Dan melihat kondisi di lapangan yang ada seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, maka diperlukan upaya untuk dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar di kelas bahasa Indonesia khususnya materi menulis.
B.     Identifikasi masalah
Berdasarkan observasi dan interview yang telah dilakukan oleh peneliti, peneliti menemukan beberapa masalah dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar di kelas bahasa indonesia. Permasalahan tersebut disusun menjadi identifikasi masalah sebagai berikut.
1)     Siswa dalam kelas tidak aktif atau pasif
Berdasarkan observasi yang dilakukan, siswa terkesan pasif dan acuh terhadap pelajaran bahasa Indonesia . Siswa hanya diam dalam menerima pelajaran. Siswa tidak berpartisipasi aktif dalam kelas. Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan siswa menjadi pasif. Dalam kasus ini, siswa bersikap pasif karena mereka tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia. Siswa juga beranggapan bahwa pelajaran bahasa Indonesia khususnya pelajaran menulis adalah pelajaran yang sulit. Anggapan ini menyebabkan siswa tidak mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar bahasa Indonesia , sehingga mereka menjadi pasif di kelas.
2)     Siswa tidak memperhatikan pelajaran saat di kelas
Menurut hasil observasi, proses belajar mengajar yang berlangsung kurang berjalan dengan baik karena banyak siswa yang tidak memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Banyak siswa yang berbicara dengan temannya, bermain dengan temannya, atau bahkan menggunakan handphone mereka tanpa segan-segan. Ada juga siswa yang berpindah-pindah tempat duduk tanpa menghargai guru yang sedang menyampaikan materi di depan kelas. Banyak siswa yang malah asik sendiri dengan kegiatannya yang notabene tidak berhubungan dengan pelajaran bahasa Indonesia . Hal ini tentunya menjadi cerminan bahwa proses belajar mengajar bahasa ingris di kelas tidak berjalan dengan baik dan tentunya tidak mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
3)     Siswa tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia
Seperti yang telah dikemukakan di atas, siswa tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini mengakibatkan siswa tidak bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Siswa tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia dimungkinkan karena pengajaran yang tidak menarik karena penggunaan media yang terbatas atau dikarenakan siswa sendiri beranggapan bahwa pelajaran bahasa Indonesia tidak menarik. Kondisi psikologis yang semacam ini tentunya mempengaruhi proses pembelajaran karena siswa tidak mempunyai motivasi dari dalam dirinya untuk mengikuti pelajaran.
4)     Siswa tidak dilibatkan dalam prosse belajar mengajar bahasa Indonesia
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, proses belajar mengajar bahasa Indonesia materi menulis  di kelas VII E  SMP Negeri 1 Ceper  kurang melibatkan siswa. Siswa menjadi pasif dan asik dengan kegiatan mereka sendiri. Siswa hanya mendengarkan guru dan tidak terjadi komunikasi dua arah dalam PBM. Padahal, dalam pengajaran bahasa, interaksi antara siswa dan guru dalam artian terjadi komunikasai dua arah mempunyai peranan yang penting dalam pencapain tujuan pembelajaran.
5)     Siswa tidak mempunyai buku-buku teks bahasa Indonesia yang memadai
Dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa hanya menggunakan modul yang disediaakn sekolah. Siswa tidak memiliki buku lain sebagai bahan ubtuk belajar. Siswa tidak mempunyai buku-buku teks bahasa Indonesia lain ynag dapat membatu siswa dalam belajar bahasa Indonesia di rumah maupun di sekolah. Materi hanya terbatas pada materi yang ada dalam modul dari sekolah. Hal ini mengakibatkan pengetahuan siswa menjadi sangat terbatas.
6)     Siswa jarang mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru
Berdasarkan interview yang dilakukan dengna guru dan siswa, siswa jarang sekali mengerjakan tugas ataupun pekerjaan rumah yang diberikan. Siswa terkesan tidak peduli akan tugas ataupun pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Meskipun guru sudah meminta siswa untuk mengerjakan dan mengumpulkan tugas ataupun pekerjaan rumah yang diberikan, hanya beberapa siswa saja yang mau mengerjakan dan mengumpulkan tugas yang diberikan. Guru sudah berusaha untuk memberikan sanksi ataupun hukuman bagi siswa yang tidak mengerjakan, namun siswa tidak peduli akan hal tersebut. Siswa terkesan acuh terhadap apa yang diinstruksikan oleh guru mereka.
7)     Media yang digunakan sangat terbatas
Berdasarkan observasi dan interview yang dilakukan dengan guru dan siswa kelas satu, guru jarang sekali menggunakan media yang menarik dalam proses pembelajaran. Dalam mengajar, guru hanay menggunakan media buku atau modul yang disediakan sekolah. Guru sangat jarang menggunakan media seperti gambar, lagu, atau aunthentic material lainya. Hal ini dikarenakan sekolah juga  tidak memberikan atau menyediakan media yang cukup untuk dipakai dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia sehingga guru hanya mengunakan buku dan modul sebagai media pembelajaran.
8)     Materi yang diajarkan sangat terbatas hanya berasal dari modul yang diberikan dari sekolah
Dalam proses belajar mengajar di kelas, guru menggunakn modul yang disediakan sekolah sebagai bahan ajar. Semua materi yang disampaikan kepada siswa hanya berasal dari modul tersebut. Guru jaramg sekali menggunakan bahan ajar dari sumber lain. Keterbatasan materi ini juga mengakibatkan siswa kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran.
9)     Guru tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di kelas
Berdasarkan observasi dan juga wawancara yang dilakukan, guru tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam menyampaikan materi. Guru biasanya menggunakan bahasa indonesia atau bahkan bahasa jawa mengajar. Ketika ditanya mengenai alasannya, guru menyampaikan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mengungkap materi yang disampaikan bila menggunakan bahasa jawa. Siswa masih sangat sulit untuk memahami penjelasan guru dalam bahasa Indonesia . Siswa masih belum terbiasa dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam kelas. 
C.    Batasan masalah
Penelitian ini fokus pada pembahasan mengenai bagaimana menemukan pemecahan masalah yang terkait dengan masalah peningkatan kemampuan menganalisa masalah siswa  dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia. Pemecahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar bahasa Indonesia materi menulis  di kelas VII E  SMP Negeri 1 Ceper .

D.    Rumusan masalah
Bagaimana merencanakan, menerapkan, dan mengevaluasi dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis dengan metode penugasan siswa menggunakan alat peraga berbagai macam gambar di kelas VII E  SMP Negeri 1 Ceper  ?
E.     Tujuan
Dalam hubungannya dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk merencanakan, menerapkan, dan mengevaluasi dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis dengan metode penugasan siswa dan dengan alat peraga di kelas VII E  SMP Negeri 1 Ceper .
F.     Manfaat
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi:
1)     Kepala sekolah
Penelitian ini diharapkan mampu menunjukkan pada kepala sekolah upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di kelas bahasa Indonesia .
2)     Guru
Penelitian ini diharapkan mampu menunjukkan pada guru mengenai bagaimana mengajar bahasa Indonesia agar lebih menarik dan efektif.
3)     Peneliti
Menunjukkan bagaimana merencanakan, menerapkan, dan mengevaluasi masalah-masalah yang muncul dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia .



Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887







PTK SMP 017 : Meningkatkan Ketrampilan Siswa Kelas VIII C SMP 2 Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pada Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Melalui Penggunaan Langkah Polya


 

ABSTRAK
Pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang mampu mengubah perilaku peserta didik yang meliputi pengetahuan, penalaran, kecakapan dan kebiasaan. Pembelajaran matematika di sekolah mengemban tercapainya dua sasaran yaitu (1) Terbentuknya karakter peserta didik yang logis, kritis, rasional, cermat, efektif dan efisien dan (2) Implementasi hasil dalam kehidupan seharihari dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Menurut pengamatan penulis sebagai guru matematika di SMP ini, sebagian besar siswa kelas VIII tidak dapat menyelesaikan soal cerita dengan benar. Bahkan dapat dikatakan bahwa soal cerita merupakan masalah, dipandang dari sisi kemampuan menangkap makna kalimat maupun kemampuan menggunakan prosedur penyelesaiannya. Di samping itu penyelenggaraan ujian nasional yang menggunakan soal pilihan ganda dapat merangsang siswa untuk menyelesaikan dengan jalan pintas. Hal ini menyebabkan siswa semakin alergi mengerjakan soal-soal cerita yang menantang dan menuntut pemikiran lebih tinggi.
Penelitian ini berjudul “Meningkatkan Keterampilan Siswa Kelas VIII C SMP 2 Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Sistem Persamaan Linear Dua Variabel melalui Penggunaan Langkah Polya”.
Tujuan penelitian tersebut untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VIII C SMP 2 Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 dalam menyelesaikan soal cerita pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel melalui penggunaan langkah Polya. Untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita perlu ditekankan penggunaan langkah procedural sebagaimana dianjurkan oleh George Polya yaitu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa hasil yang diperoleh.
Penelitian ini terlaksana dalam dua siklus. Pada siklus I diperoleh hasil bahwa keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita Sistem Persamaan Linear Dua Variabel belum maksimal. Persentase keterampilan mencapai 45% dan ketuntasan belajar mencapai 42,5%. Pada siklus II setelah dilakukan refleksi dan pembenahan, diperoleh hasil persentase keterampilan sebesar 75% sedangkan ketuntasan belajar mencapai 77,5%. Dengan demikian keterampilan siswa meningkat 30% dan ketuntasan belajar meningkat 35%. Dari penelitian ini diperoleh simpulan bahwa melalui penggunaan langkah Polya, keterampilan siswa kelas VIII C SMP 2 Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear dua variabe  dapat ditingkatkan.
Akhirnya penulis menyarankan kepada guru matematika kelas VIII SMP 2
Gebog Kudus untuk dapat menggunakan langkah Polya dalam pembelajaran berkaitan dengan soal cerita sehingga siswa dapat menyelesikan soal secara sistematis.
DAFTAR PUSTAKA
Bawadiman. 1997. Peranan Pendidikan Matematika dalam Era Globalisasi. (Makalah Seminar ) FPMIPA IKIP Semarang.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pelajaran Matematika SMP Kelas VIII. Edisi ke-2 Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Penilaian Pembelajaran Matematika Bentuk Tes. Materi Pelatihan Terintegrasi. Buku 3. Jakarta.
Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Shadiq, Fadjar. 2004. Penalaran, Pemecahan Masalah dan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika. (Makalah Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMP Jenjang Dasar) PPPG Matematika Yogyakarta.
Hudojo, Herman. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. FPMIPA Unversitas Negeri Malang.
Musser, L Gary & Burger. 1993. Mathematic for Elementary Teachers. New Jersey Prestice Hall.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 2006. Jakarta.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2006 tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007. 2006. Jakarta
Sudjana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Cetakan ke-2 Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Suyitno, Amin. 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Penyusunan Skripsi (Petunjuk Praktis). Semarang: Universitas Negeri Semarang
Zaelani, Ahmad, dkk. 2006. Pendalaman Kompetensi Matematika dan Uji Latih Mandiri Untuk Kelas VIII SMP. Bandung. Yrama Widya.
Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887






Minggu, 25 November 2012

PTK SMP 015 : Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe stad dengan lks bergambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III.3 pada mata pelajaran biologi di SMP Negeri 1 Sape tahun ajaran 2006/2007


 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang Masalah
Biologi Sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam merupakan salah satu mata pelajaran yang mempelajari makhluk hidup dan segala seluk beluknya. untuk mengantisipasi agar peserta didik tidak bosan dan jenuh dalam mempelajari ilmu ini, maka harus ditunjang oleh muatan kurikulum yang relevan sesuai dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi yang bergerak cepat dan kompek, juga dan sangatlah penting ditopang profesional dan kemampuan guru dalam pengelolaan dan penerapan metode pembelajara biologi didalam maupun diluar kelas.
Bertitik tolak dari uraian diatas dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan pengajaran biologi perlu pengubah paradigma lama bahwa guru dalam pengelola. Kegiatan mengajar menggunakan hal yang tidak beroriantasi pada ”Bagaimana saya belajar (Tearcher Conterend) tetapi lebih kepada bagaimana saya membelajarkan siswa Depdiknas SN. 43.44)”. Untuk mengantisipasi Perubahan para digma tersebut sangat didukung oleh kurikulum 2004 dimana proses belajar mengajar bukan untuk mengejar target kurikulum semata tetapi lebih kepada Melaksanakan kompetensi apa yang diperoleh peserta didik. Salah satu bentuk Pendekatan dalam kurikulum 2004 adalah Contektual Teaching and Learning (CTL) Bleachard, 2001, dalam Depdiknas SN. 38 menjelaskan “Pengajaran dan Pembelajaran Contektual merupakan suatu konsepsi yang membantu mengaitkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antar pengajaran dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga masyarakat, tenaga kerja”. Perangkat pembelajaran Contektual kini telah diselaraskan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya sesuai dengan keahlian anak itu.
Pengalaman dalam proses pembelajaran biologi khususnya materi cara-cara perkembangbiakan dengan metode ceramah dan diskusi tampa gambar-gambar makhluk hidup (media pembelajaran) siswa kurang termotivasi dan suasana belajar kurang menggairahkan serta tidak cukup efektif dalam memanfaatkan buku sumber yang ada. Berdasarkan berbagai pemikiran diatas dan pengalaman Menjalankan tugas mendorong penulis untuk membuat sedikit Perubahan mengenai strategi pembelajaran dan ingin melakukan Penelitian tindakan kelas dengan judul ” Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe stad dengan lks bergambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III.3 pada mata pelajaran biologi di SMP Negeri 1 Sape tahun ajaran 2006/2007”
1.2.       Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang timbul adalah sebagai Berikut :
1)      Motivasi belajar siswa tentang cara-cara perkembangbiakan kurang.
2)      Kemampuan / prestasi anak mengenal cara-cara perkembangbiakan kurang
1.3.       Cara Pemecahan masalah.
Dari permasalahan-permasalahan yang muncul tersebut penulis mencoba melaksanakan dengan pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan LKS bergambar dan didalamnya diajukan beberapa pertanyaan.
1.4.       Tujuan penelitian
1)      Mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran biologi kelas IX semester I mengenai konsep cara-cara perkembangbiakan melalui pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan LKS bergambar.
2)      Mengetahui permasalah-permasalahan yang dihadapi siswa sehingga dapat dicari solusinya.
1.5.       Manfaat Penelitian
1)      Bagi Siswa
Meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada konsep cara-cara perkembangbiakan makhluk hidup demikian pula pada konsep-konsep berikutnya.
2)      Bagi Guru
a.       Sebagai bahan acuan untuk mengintropeksi diri agar lebih baik dalam meningkatkan profesionalisme untuk melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar.
b.      Sebagai bahan acuan bagi guru untuk dapat memilih metode pembelajaran bagi siswa yang lebih tepat.
3)      Bagi Sekolah
Hasil penelitian nanti akan memberikan sumbangan yang berharga bagi Sekolah itu sendiri dalam rangka perbaikan pembelajaran pada Khususnya dan sekolah lainnya pada umumnya.


Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887





Senin, 19 November 2012

PTK SD 151 = Pd 615 : Penggunaan Metode Diskusi Mata Pelajaran IPS Sejarah Pada Mata Pelajaran IPS Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik di SD Sampangan 04 Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun Ajaran 2004-2005


 


ABSTRAK
2006. Penggunaan Metode Diskusi Mata Pelajaran IPS Sejarah Pada Mata Pelajaran IPS Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik di SD Sampangan 04 Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun Ajaran 2004-2005.
Jurusan Sejarah fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Prestasi belajar IPS dewasa ini banyak mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, terutama para pengamat pendidikan. Banyak usaha yang dilakukan dalam rangka meningkatkan prestasi tersebut. Salah satu upaya itu adalah melakukan pengajaran dengan menggunakan Metode Diskusi. Alasan tersebut diupayakan agar prestasi peserta didik meningkat dan peserta didik lebih aktif untuk menemukan dan mencari sendiri tentang tugas yang dibebankan. Dengan demikian metode ini lebih mengembangkan kemandirian peserta didik untuk bekal dalam kehidupan kelak. Metode ini digunakan untuk melihat perbedaan yang signifikan antara prestasi peserta didik yang diajar dengan metode diskusi dan yang tidak dengan menggunakan metode diskusi.
Permasalahan dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi belajar IPS, mengetahui penggunaan metode diskusi dengan peningkatan prestasi belajar, serta mengetahui perbedaan prestasi belajar yang menggunakan dan tidak menggunakan metode diskusi pada peserta didik di SD Sampangan 04 Kecamatan gajahmungkur Kota Semarang Tahun Ajaran 2004-2005. Manfaat yang diperoleh adalah secara akademis, praktis dan teoretis.
Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VI SD Negeri Sampangan 04 Kecamatan Gajahmungkur Tahun Ajaran 2004 – 2005 yang keseluruhannya berjumlah 60 orang peserta didik terdiri dari 2 kelas yaitu kelas VI A dan VI B, dengan pengambilan sampel secara Total Sampling. Metode yang digunakan adalah Metode Evaluasi (test), observasi, dokumentasi untuk menjawab tiga permasalahan tersebut di atas, dengan menggunakan metode Analisa Deskriptif dan Hipotesis. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan terikat Variabel independen (bebas ) yaitu penggunaan metode diskusi pada mata pelajaran IPS. Sedangkan variabel dependen (terikat) adalah hasil belajar peserta didik kelas VIB, SD Sampangan 04 Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang.
Dari hasil perhitungan diketahui t = 2,632 pada taraf signifikansi 50%, N = 30, sedangkan pada tabel t = 2,457 sehingga t hitung > t tabel. Atau dengan kata lain terdapat perbedaan prestasi belajar sejarah yang positif dan signifikan pada peserta didik kelas VI tahun ajaran 2004 – 2005 di SD Negeri Sampangan 04 Kecamatan Gajagmungkur Kota Semarang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang menggunakan metode diskusi memiliki prestasi belajar lebih baik dibanding peserta didik yang diberi pelajaran hanya menggunakan metode ceramah secara monoton. Oleh sebab itu metode ceramah perlu didukung dengan metode lain yang relevan. Salah satu metode yang cocok dipadukan adalah dengan metode diskusi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, untuk selanjutnya penulis ingin memberikan saran yang dapat membantu usaha meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS Sejarah sebagai berikut : 1) sekolah perlu memberikan metode diskusi selain penggunaan metode ceramah atau yang lain, 2) untuk peningkatan prestasi belajar, penggunaan metode diskusi sangant diperlukan, 3) dengan menggunakan media diskusi penyampaian materi mata pelajaran IPS Sejarah akan lebih baik dan peserta didik akan lebih aktif.

Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887





Selasa, 13 November 2012

PTK SD 150 = Pd 499 : Penerapan Metode Diskusi Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar PKPS Siswa Kelas IV Semester Genap SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2006/ 2007


 ABSTRAK

xxxxxxxx 2007. Penerapan Metode Diskusi Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar PKPS Siswa Kelas IV Semester Genap SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2006/ 2007. Pembimbing (I) _________________, (II) ________________
Kata kunci: Metode diskusi, upaya, prestasi belajar, PKPS.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tuntutan pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk mendukung cita-cita dan tujuan Negara RI serta mendukung globalisasi, sehingga dirasa perlu mengupayakan metode belajar yang mendukung untuk meningkatkan prestasi siswa. Dengan banyaknya konsep yang mengemukakan tentang keuntungan-keuntungan dalam penerapan metode diskusi, maka penulis merasa perlu melakukan penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  (1)  Bagaimana proses pelaksanaan metode diskusi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IV SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kabupatan Ngawi, (2) Minat  siswa kelas IV SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kabupatan Ngawi semester genap tahun 2006/2007 terhadap penggunaan metode diskusi yang digunakan oleh guru PKN, (3) Untuk mengetahui apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial siswa kelas IV semester genap SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kabupatan Ngawi tahun pelajaran 2006/2007.
Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan metode siklus, yaitu dengan menggunkan tiga siklus, yang mana dalam setiap siklus terdapat refleksi yang dimaksudkan untuk menggali strategi penyusunan alternative penyempurnaan, guna penyempurnaan di tahap berikutnya.
Hasil yang diperoleh adalah (1) Pelaksanaan metode diskusi yang dilakukan melalui tiga siklus, dengan siklus I sebagai siklus pertama penerapan metode diskusi, siklus II sebagai penyempurnaan dari siklus I, dan siklus III sebagai penyempurnaan dari siklus II., (2). Terdapat minat yang tinggi pada siswa terhadap penyelenggaraan diskusi, akan tetapi sebagian siswa justru tampak menjadi hiperaktif akibat kebebasan menjalin komunikasi saat pelaksanaan diskusi. Sementara itu, beberapa siswa tampak kurang berminat akibat merasa kesulitan untuk memahami persoalan, terutama dalam tahap siklus I dan II. Pada siklus III, minat siswa yang berlebihan tampak lebih terkendali. (3). Terdapat peningkatan prestasi yang nyata, baik dalam setiap siklus maupun hasil akhir dari penerapan metode diskusi, yaitu setelah siklus III. Sebelum penyelenggaraan diskusi, nilai rata-rata kelas adalah 6,5., setelah siklus I adalah 7,5., setelah siklus II adalah 7,8., dan pada tahap akhir setelah siklus III adalah 8,3. Hal ini menunjukkan dampak yang nyata dari pelaksanaan proses diskusi yang dilaksanakan dengan metode siklus.

Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887






Minggu, 11 November 2012

PTK SD 149 = Pd 225 : Dengan Penerapan Metode Diskusi Dapat Meningkatkan Prestasi Belajar PKN Siswa Kelas 5 Semester Genap SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kab Ngawi Tahun Pelajaran 2006/2007.


 

ABSTRAK
xxxxxxxxxxx. Dengan Penerapan Metode Diskusi Dapat Meningkatkan Prestasi Belajar PKN Siswa Kelas 5 Semester Genap SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kab Ngawi Tahun Pelajaran 2006/2007. Pembimbing (I) _________________, (II) ________________
Kata kunci: Metode diskusi, upaya, prestasi belajar, PKN.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tuntutan peningkatan kualitas pendidikan di SDN Sambirejo 4 Kecamatan Mantingan Kabupaten Ngawi,  sehingga dirasa perlu mengupayakan metode belajar yang mendukung untuk meningkatkan prestasi siswa. Dengan banyaknya konsep yang mengemukakan tentang keuntungan-keuntungan dalam penerapan metode diskusi, maka penulis merasa perlu melakukan penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  (1) Bagaimana pelaksanaan metode diskusi untuk siswa kelas 5 Semester genap SDN Sambirejo 4 Ngawi (2) Bagaimana prestasi siswa sebelum dan sesudah diberlakukan metode diskusi., (3) Ada tidaknya pengaruh yang signifikan dalam penerapan metode diskusi terhadap hasil belajar PKN siswa, (4)  Bagaimana model peningkatan prestasi dari pelaksanaan metode diskusi.
Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan metode siklus, yaitu dengan menggunkan tiga siklus, yang mana dalam setiap siklus terdapat refleksi yang dimaksudkan untuk menggali strategi penyusunan alternatif penyempurnaan, guna penyempurnaan di tahap berikutnya.
Hasil yang diperoleh adalah (1) Pelaksanaan metode diskusi yang dilakukan melalui tiga siklus, dengan siklus I sebagai siklus pertama penerapan metode diskusi, siklus II sebagai penyempurnaan dari siklus I, dan siklus III sebagai penyempurnaan dari siklus II., (2). Terdapat perbedaan prestasi rata-rata yang jelas antara sebelum dan sesudah diberlakukannya proses diskusi dengan metode siklus. (3). Terdapat peningkatan prestasi yang nyata, baik dalam setiap siklus maupun hasil akhir dari penerapan metode diskusi, yaitu setelah siklus III. Sebelum penyelenggaraan diskusi, nilai rata-rata kelas adalah 7., setelah siklus I adalah 7,6., setelah siklus II adalah 8,2., dan pada tahap akhir setelah siklus III adalah 7,8. Hal ini menunjukkan dampak yang nyata dari pelaksanaan proses diskusi yang dilaksanakan dengan metode siklus. Persamaan untuk perubahan prestasi setelah dilakukan proses diskusi adalah Y = 0,35X + 6,3.


DAFTAR PUSTAKA
Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP
E. Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda
Maknum, H.A. Syamsudin. 2005. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mudhofir. 1987. Teknologi Instruksional. Bandung: Remadja Karya
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Gerlach, R. 1988. Qualitative Method. An Introduction to Research. __________
Sa’ud, U. Syaefudin dan Maknum, H.A. Syamsudun. 2005. Perencanaan Pendidikan. Bandung: Remaja Risdakarya
Tim, 2007. Pedoman Penulisan Skripsi. Madiun: IKIP PGRI
Walpole E, Ronald. 1982. Introduction to Statistic. San Francisco: W.H. Freeman & Co.
W.B. John, 1977. Research in Education.  India: Prentice Hall.
Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887





Senin, 05 November 2012

PTK SD 148 = Pd 161 : USAHA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGEFEKTIFKAN METODE PEMBERIAN TUGAS SISWA KELAS V SD 2 MENAWAN, GEBOG, KUDUS TAHUN PELAJARAN 2004/2005




ABSTRAK
xxxxxxxxxxxxx USAHA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGEFEKTIFKAN METODE PEMBERIAN TUGAS SISWA KELAS V SD 2 MENAWAN, GEBOG, KUDUS TAHUN PELAJARAN 2004/2005. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agustus 2005.
            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan bahwa metode pemberian tugas dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan untuk mengefektifkan metode pemberian tugas agar dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD 2 Menawan, Gebog, Kudus tahun pelajaran 2004/2005.
            Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan strategi tindakan berupa perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SD 2 Menawan, Gebog, Kudus Tahun Pelajaran 2004/2005 sejumlah 17 siswa. Penelitian dilakukan dengan tiga siklus.
            Dari penelitian tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa metode pemberian tugas dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam operasi bilangan pecahan dengan subpokok bahasan penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis pretes dan postes pada siklus I menunjukkan ketuntasan yang dicapai 47,0%. Siklus II menunjukkan ketuntasan belajar yang dicapai siswa sebesar 47,05%. Siklus III menunjukkan ketuntasan belajar yang dicapai siswa sebesar 88,23%. Ini berarti ada peningkatan dari masing-masing siklus setelah diterapkannya metode pembelajaran pemberian tugas.


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Gafur. 1989. Dedaktik Metodik Pembelajaran di SD. Yogyakarta: Yasrib
Anton Sukarno. 1994. Efektivitas Sistem Pengajaran Pelayanan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Surakarta: Tiga Serangkai.
Aswan Zaim. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Semarang: Gramedia
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Kelas IV, V,dan VI. Jakarta: Dikmenum.
__________________________ . 1996. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Dasar 9 Tahun. Jakarta: Duta Nusindo.
Depdiknas. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Dewa Ketut Sukardi. 1994. Teknik-teknik Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Dirjen Dikdasmen. 1997. Matematika Dasar. Jakarta: Balai Pustaka.
Diwandono. 199. Penilaian Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Djamarah. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Endang Retno. W. 2002. Metode Penelitian Kelas. Semarang: Unnes.
Herman Hudojo. 1998. Strategi Pembelajaran Matematika di SD. Bandung: Angkasa.
Ismail. 2003. Kpita Selekta Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Julius Hambali. 1992. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka.
Karso. 2003. Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.
Karso. 2004. Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka.
Kasbolah. 1999. Matodik Dedaktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Moeliono. 2001. Dediktik/Metode Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Milles and Huberman. 2000. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Percetakan Muhammadiyah.
Muctar. 2004. Matematika jilid II. Jakarta: Universitas Terbuka.
Muhibbin Syah. 1995. Desain Instruksional. Solo: Yudistira.
Mohammad Ali. 1987. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Gramedia.
Muhammad Surya. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mulyani Sumantri. 2002. Metode-metode Pembelajaran dalam Matematika. Jakarta: Depdiknas.
Muslich. 1994. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Jakarta: Airlangga.
Nana Sudjana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
Nursid Summadmadja. 2003. Konsep Dasar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.
Oemar Hamalik. 1980. Metodologi Pengajaran Ilmu Pendidikan. Bandung: Tarsito.
Ruseffendie. 1993. Matematika 3. Jakarta: Universitas Terbuka.
Slameto. 1987. Cara Belajar Siswa Aktif. Jakarta: Rineka Cipta.
___________________ . 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Soemardi Soerjabrata. 1980. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Bina Aksara.
Soejadi. 2000. Pendidikan Matematika di SD. Jakarta: UT
Syaiful Bahri. 2002. Dasar-dasar Pembelajaran Matematika. Jakarta: Djambatan.
Subarjo, dkk. 1990. Bahan Penataran Kurikulum SD 1975 Yang Disempurnakan. Jawa Tengah.
Sugiyono. 1990. Prosedur Penelitian Kualitatif. Bandung: Eksakta.
Suharsimi Arikunto. 1986. Prosedur Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Sumitro. 1987. Inovasi Pendidikan. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Sutartinah Tirtonegoro. 1998. Anak Supernormal dan Program Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Suyitno. 2000. Pembelajaran Matematika. Bandung: Erlangga.
Tabrany Rusyan. 1989. Psikologi Pendidikan. Bandung: Tarsito.
Ulihbukit Karo-Karo. 1981. Metodologi Pengajaran. Salatiga: Saudara.
Wahyudin. 2003. Ensiklopedi Matematika untuk SLTP. Jakarta: Tarity Samudra Berlian.
Winkel W.S. 1994. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.
W.J.S. Poerwadarminta. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Untuk mendapatkan file lengkap hubungi/ sms ke HP. 085725363887